KONSEP DASAR PENELITIAN PENDIDIKAN
Tugas Mata Kuliah Metodelogi Penelitian AUD
Oleh:
Arni
:
2015.02.004
Kurnia
Dewiyani :
2015.02.014
Novita
Loka :
2015.02.021
Fakultas/Prodi
: Tarbiyah/PIAUD
Dosen Pengampu: Endang Switri, M.Pd.I
PENDIDIKAN
ISLAM ANAK USIA DINI
SEKOLAH
TINGGI ILMU TARBIYAH AL QURAN AL ITTIFAQIAH
INDRALAYA
OGAN ILIR SUMATERA SELATAN
2017
KATA
PENGANTAR
Bismillahirahmaanirrahiim
Segala
puji bagi Allah SWT, pencipta alam semesta ini. Dan karena-Nya lah kita masih
bisa merasakan betapa indah dan bahagianya hidup ini. Nikmat yang Dia berikan
tidak pernah ada habisnya, nikmat iman, nikmat Islam, nikmat sehat, bahkan
masih banyak lagi nikmat yang tak terhitungkan.
Shalawat
serta salam selalu tercurah kepada Baginda Muhammad SAW. Karena berkatnya
jualah kita bisa merasakan hidup penuh kedamaian, tanpa adanya kejahilan
seperti pada masanya.
Alhamdulillah
tersusunnya makalah ini juga tidak lepas dari beberapa faktor, terutama
dukungan dari orangtua. Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan
kesalahan dari karya kami ini. Untuk itu, kami mohon maaf dan kami sangat
mengharapkan adanya kritik dan saran dari pembaca.
Atas
kritik dan sarannya kami ucapkan terima kasih.
Indralaya,
06 Oktober 2017
Penulis
DAFTAR
ISI
COVER....................................................................................................................1
KATA PENGANTAR
2
DAFTAR
ISI
3
BAB I PENDAHULUAN
4
A. Latar Belakang
4
B. Rumusan Masalah
4
C. Tujuan
Penulisan
5
BAB II PEMBAHASAN
6
A.
Konsep
Dasar Penelitian Pendidikan
6
1.
Pengertian
penelitian pendidikan...........................................................6
2.
Rasionalisasi perlunya penelitian
8
3.
Tujuan
penelitian pendidikan
9
4.
Fungsi
penelitian pendidikan
11
5.
Proses
penelitian pendidikan
13
6.
Beberapa
keterbatasan penelitian pendidikan
15
BAB III PENUTUP
18
A. Kesimpulan
18
B.
Saran..................................................................................................................18
DAFTAR
PUSTAKA
19
Notulen...................................................................................................................20
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Dewasa ini, kata pendidikan merupakan sesuatu
yang sudah tak lazim lagi didengar. Karena mengapa? Semua tindak tanduk yang
sedang berjalan saat ini sangat berkaitan erat dengan pendidikan, teknologi
contohnya.
Teknologi merupakan suatu bentuk hasil
dari sebuah pendidikan. Dalam hal ini adalah penelitian. Tentunya, dalam
penelitian tersebut mempunyai masalah-masalah tersendiri sehingga mampu
menciptakan teknologi.
Tidak hanya itu, pendidikan saat ini
merupakan hal yang wajib diayomi setiap anak. Dengan melihat perkembangan zaman
yang semakin jauh dari identitas bangsa sebenarnya. Katakanlah sudah mengikuti
alur Barat yang mewah-mewah serta meninggalkan yang namanya “Akhlak”.
Untuk itu setiap anak diwajibkan
mengikuti yang namanya proses pendidikan. Tentunya pendidikan itu tidak
monoton. Sehingga pendidikan mampu dikatakan berhasil. Hal ini menyangkut
masalah penelitian yang akan memperkembangluaskan materi, bahan ajar pendidikan
tersebut.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai
penelitian, kami akan membahasnya di dalam makalah ini yang kami beri tema “Konsep Dasar Penelitian Pendidikan”.
B. Rumusan
Masalah
Adapun rumusan masalah dari penulisan ini adalah sebagai
berikut:
1.
Apa
pengertian, tujuan, fungsi, dan proses penelitian pendidikan?
2.
Bagaimana
rasionalisasi perlunya penelitian serta beberapa keterbatasan penelitian
pendidikan?
C. Tujuan
Penulisan
Adapun tujuan dari
penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian, tujuan fungsi, dan proses
penelitian pendidikan.
2. Untuk mengetahui rasionalisasi perlunya penelitian serta
beberapa keterbatasan penelitian pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep
Dasar Penelitian Pendidikan
1.
Pengertian penelitian pendidikan
Penelitian
(research) dapat diartikan sebagai upaya atau cara kerja yang sistematik untuk menjawab permasalahan atau
pertanyaan dengan jalan mengumpulkan data dan
merumuskan generalisasi berdasarkan data tersebut. Diartikan juga sebagai proses pemecahan masalah dan menemukan
serta mengembangkan batang tubuh pengetahuan
yang terorganisasikan melalui metode ilmiah.[1] Penelitian adalah suatu kegiatan penyelidikan yang
dilakukan menurut metode ilmiah yang sistematis untuk menemukan informasi
ilmiah dan atau teknologi baru, membuktikan kebenaran atau ketidakbenaran
hipotesis sehingga dapat dirumuskan teori dan atau gejala sosial.[2]
Dari
pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa penelitian adalah suatu
upaya atau usaha untuk memecahkan suatu masalah dengan cara mengumpulkan
data-data melalui metode ilmiah.
Langkah
yang ditempuh dalam metode ilmiah merupakan langkah yang hierarkis (berjenjang
atau berurutan) dan logis. Tahapan-tahapannya sistematis, bukan acak. Dalam
penelitian, langkah dengan menggunakan metode ilmiah tersebut secara tipikal
dapat dirinci sebagai berikut.
1.
Mengenali dan menentukan masalah yang
akan diteliti.
2.
Mengkaji teori yang sudah ada yang
relevan dengan masalah yang hendak diteliti.
3.
Mengajukan hipotesis atau pertanyaan
penelitian.
4.
Membuat desain penelitian untuk menguji
hipotesis tersebut.[3]
Beberapa pendapat ahli mengenai penelitian, yakni:
a. David
Penny : “Penelitian berarti berpikir secara
sistematis mengenai jenis-jenis persoalan yang untuk pemecahannya diperlukan
pengumpulan dan penafsiran fakta-fakta.”[4]
b. Soerjono
Soekanto : “Penelitian
adalah suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan kepada suatu analisis serta
konstruksi yang dilakukan dengan secara sistematis, metodologis dan juga
konsisten serta bertujuan untuk dapat mengungkapkan kebenaran ialah sebagai
salah satu manifestasi keinginan manusia untuk dapat mengetahui mengenai apa
yang sedang dihadapinya.”
c. Donald
Ary : “Penelitian
adalah suatu penerapan dari pendekatan ilmiah disuatu pengkajian masalah
didalam memperoleh suatu informasi yang berguna serta hasil yang didapat itu
bisa dipertanggungjawabkan.”
d. Parson
: “Penelitian
adalah suatu pencarian dari segala sesuatu yang dilakukan dengan secara
sistematis, yang dengan penekanan bahwa pencariannya itu dilakukan pada suatu
masalah-masalah yang bisa dipecahkan dengan penelitian.”[5]
Penelitian terbagi menjadi dua yakni
penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Penelitian kualitatif
mempunyai makna yang mendalam atau disebut juga verstehen, karena mempertanyakan suatu objek secara mendalam.
Penelitian kualitatif juga bisa dikatakan penelitian yang berbentuk analisa.
Sedangkan penelitian kuantitatif itu
sangat bersangkut paut dengan nilai-nilai, angka-angka, diagram, dan lain
sebagainya.[6]
Ada dua puluh delapan aspek yang
menjadi penyebab berbedanya antara penelitian kualitatif dan penelitian
kuantitatif. Diantaranya adalah maksud, tujuan, pendekatan, asumsi, model
penjelasan, nilai, alasan, generalisasi, dan sebagainya.[7]
Apakah
yang dimaksud dengan penelitian pendidikan? Penelitian pendidikan adalah upaya
ilmiah untuk memahami beragam masalah pendidikan dan fenomena yang ada di dunia
pendidikan. Fenomena merujuk pada masalah yang muncul dalam sistem pendidikan
formal, nonformal, maupun informal. Masalah ini dapat muncul dalam berbagai
bentuk. Hampir setiap aspek dari ketiga sistem pendidikan tersebut mempunyai
peluang untuk muncul menjadi masalah yang layak teliti. Beberapa contoh yang
mencerminkan hal tersebut adalah penelitian tentang tingkat putus sekolah,
kecepatan belajar, motivasi belajar, dan sebagainya.[8]
2.
Rasionalisasi perlunya penelitian
Rasionalisasi
perlunya penelitian berasal dari kata “rasional” yang berarti kegiatan
penelitian itu dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal, sehingga terjangkau
oleh penalaran manusia.[9]
Rasionalisasi perlunya pendidikan ini bisa dikatakan sama halnya dengan tujuan
dari penelitian itu sendiri. Akan tetapi, rasionalisasi perlunya penelitian ini
lebih dikatakan sebagai suatu manfaat akan perlunya penelitian itu.
Ali
(1982) menyebutkan paling tidak ada empat manfaat hasil penelitian pendidikan
sebagai berikut.
a. Sebagai
peta yang menggambarkan keadaan pendidikan dan melukiskan kemampuan sumber
daya, kemungkinan pengembangan serta hambatan yang dihadapi atau mungkin
ditemukan dalam penyelenggaraan pendidikan.
b. Sebagai
sarana diagnosis dalam mencari sebab kegagalan serta masalah yang dihadapi
dalam pelaksanaan pendidikan sehingga dapat dicari upaya penanggulangannya.
c. Sebagai
sarana untuk menyusun kebijakan dalam menyusun strategi pengembangan
pendidikan.
d. Sebagai
masukan yang memberikan gambaran tentang kemampuan dalam pembiayaan, peralatan,
perbekalan, serta tenaga kerja baik yang secara kuantitas maupun kualitas
sangat berperan bagi keberhasilan dalam bidang pendidikan.
Ke
empat hal tersebut merupakan gambaran manfaat penelitian pendidikan di atas
kertas yang terkait dengan perencanaan, strategi, dan kebijakan pengembangan
sistem penelitian pendidikan.
Manfaat
penelitian pendidikan di lapangan, menurut Borg dan Gall (1993), tercermin
dalam dua bentuk kontribusi:
a. Kontribusi terhadap ilmu pendidikan itu
sendiri,
dan
b. Kontribusi dalam bentuk dampak dari ilmu
pendidikan tersebut dalam praktik-praktik pendidikan. [10]
3.
Tujuan penelitian pendidikan
“Allah
tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sehingga kaum itu sendirilah yang
berusaha untuk mengubahnya.”
(QS. Ar-Ra’d: 11).[11]
Ayat di atas berkaitan erat dengan penelitian. Dimana penelitian itu sendiri
merupakan suatu wadah atau suatu bentuk dari perubahan pendidikan. Maksudnya,
dalam pendidikan itu tentunya tidak selalu begitu-begitu saja atau monoton.
Untuk itulah dilakukanlah suatu perubahan yakni dengan penelitian. Hal ini
sesuai dengan pengertian pendidikan itu sendiri yakni pendidikan adalah usaha
manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam
masyarakat dan kebudayaan.[12]
Penelitian bertujuan untuk memperoleh
pengetahuan, pemecahan masalah, atau rumusan teori-teori baru. Sedangkan apabila ditilik dari segi
prosesnya, penelitian bertujuan untuk:
a. Mencandra,
mendeskripsikan, memberikan atau menggambarkan secara
jelas dan cermat tentang data, atau fakta dari
permasalahan yang diteliti.
b. Menerangkan
(eksplanasi) kondisi atau faktor-faktor yang mendasari, melatarbelakangi terjadinya masalah.
c. Menyusun
atau merumuskan teori-teori, hukum-hukum mengenai hubungan antara faktor yang satu dengan yang
lainnya, atau peristiwa yang satu dengan peristiwa
lainnya.
d. Membuat
prediksi, estimasi, dan proyeksi mengenai peristiwa-peristiwa yang akan terjadi atau gejala-gejala yang
bakal muncul.
e. Mengendalikan
peristiwa-peristiwa atau gejala-gejala berdasarkan temuan-temuan yang
diperoleh.[13]
Terkait
dengan ilmu pengetahuan, dapat dikemukakan tiga
tujuan umum penelitian yaitu:
a.
Tujuan Eksploratif, penelitian
dilaksanakan untuk menemukan sesuatu (ilmu
pengetahuan) yang baru dalam bidang tertentu. Ilmu yang diperoleh melalui penelitian betul-betul baru
belum pernah diketahui sebelumnya. Misalnya
suatu penelitian telah menghasilkan kriteria kepemimpian efektif dalam MBS. Contoh lainnya adalah
penelitian yang menghasilkan suatu
metode baru pembelajaran matematika yang menyenangkan siswa.
b.
Tujuan Verifikatif,
penelitian dilaksanakan untuk menguji kebenaran dari sesuatu (ilmu pengetahuan) yang telah
ada. Data penelitian yang diperoleh digunakan
untuk membuktikan adanya keraguan terhadap infromasi atau ilmu pengetahuan
tertentu. Misalnya, suatu penelitian dilakukan untuk membuktian adanya pengaruh kecerdasan
emosional terhadap gaya kepemimpinan.
Contoh lainnya adalah penelitian yang dilakukan untuk menguji efektivitas metode pembelajaran
yang telah dikembangkan di luar
negeri jika diterapkan di Indonesia.
c.
Tujuan Pengembangan,
penelitian dilaksanakan untuk mengembangkan sesuatu
(ilmu pengetahuan) yang telah ada. Penelitian dilakukan untuk mengembangkan atau memperdalam ilmu
pegetahuan yang telah ada. Misalnya
penelitian tentang implementasi metode inquiry dalam pembelajaran IPS yang sebelumnya telah digunakan
dalam pembelajaran IPA. Contoh
lainnya adalah penelitian tentang sistem penjaminan mutu (Quality Assurannce) dalam
organisasi/satuan pendidikan yang sebelumnya
telah berhasil diterpakan dalam organisasi bisnis/perusahaan.[14]
4.
Fungsi penelitian pendidikan
Pada hakikatnya
penelitian mempunyai fungsi menemukan,mengembangkan atau menguji kebenaran
suatu pengetahuan, secara rinci
penelitian berfungsi sebagai
a. Penjajagan : yang dimana fungsi ini disebut eksploratif
maksudnya ialah bahwa penelitian berfungsi untuk menemukan sesuatu yang belum
ada dengan demikian penelitian mengisi kekosongan atau kekurangan ilmu
pengetahuan
b. Pengujian : fungsi inidisebut juga funsi verifikatif ,
maksudnya penelitian berfungsi untuk menguji kebenaran suatu pengetahuan yang
sudah ada
c. Pengembangan: fungsi ini disebut juga sebagai
developmental maksudnya penelitian berfungsi mengembangkan pengetahuan yang
sudah ada[15]
Fungsi penelitian pendidikan dapat dilihat dari dua sudut
pandang, yakni sudut perkembangan teori dan sudut praktik atau penyelenggaraan
pendidikan. Dari sudut pandang teori, kegiatan penelitian itu sendiri
sebenarnya tak lebih dari proses akumulasi temuan atau teori baru. Jika teori
tersebut dipetakan dan ditempatkan dalam perspektif kronologis atau historis
maka tampak bahwa beragam teori tersebut ada yang saling dukung atau saling
bertentangan. Khasanah ilmu pendidikan memang semakin bertambah dan teori
pendidikan itu sendiri berkembang lebih baik. Berkembang lebih baik berarti
teori tersebut lebih mampu menjelaskan fenomena yang muncul dalam dunia
pendidikan.
Dengan demikian, dalam perspektif penelitian untuk
penelitian, fungsi penelitian pendidikan adalah memperbaiki, menyempurnakan,
memperkaya, atau kadang merombak teori yang sudah ada sehingga kita mendapatkan
teori yang lebih baik.
Bagaimana fungsi tersebut dipandang dari sudut praktik atau
penyelenggaraan pendidikan? Jika kita tahu bahwa dalam dimensi teori tujuan
penelitian pendidikan adalah memperbaiki teori maka logis jika kita
mengharapkan jawaban yang sama dari tujuan penelitian terhadap praktik
pendidikan: memperbaiki praktik pendidikan. Memang itu jawabannya. Namun, perlu
diperhatikan bahwa sebenarnya jawaban tersebut terkadang menimbulkan pertanyaan
baru: Bagaimana? Apa dapat dipraktikkan? Berikut ini suatu ilustrasi bahwa
memahami fungsi pendidikan dipandang dari sudut praktik pendidikan tidak mudah.
Misalnya, suatu temuan penelitian pendidikan menunjukkan
bahwa siswa yang diberi pujian ternyata menunjukkan prestasi yang lebih baik
dibanding yang tidak diberi pujian. Nah, apakah implikasi dari temuan ini bisa
memperbaiki praktik pendidikan? Bagaimana? Apakah para pimpinan sekolah harus
menganjurkan pada para guru agar lebih banyak memberikan pujian pada siswanya?
Apakah teori tersebut dapat menjelaskan dengan tuntas sehingga para guru
memahami mengapa para siswa yang mendapat banyak pujian lebih berprestasi
dibanding siswa yang tidak mendapat banyak pujian?
Mc Millan dan Schumacher (1983) mengatakan bahwa memahami
fungsi penelitian pendidikan dalam dimensi teori maupun praktik sebenarnya
dapat dipermudah jika kita mengkaji fungsi dari jenis atau tipe penelitian itu
sendiri. Mereka mengklasifikasikan tiga tipe penelitian yang mempunyai fungsi
yang berbeda satu sama lain yakni penelitian dasar, terapan, dan evaluasi. Perbedaan
di antara ketiga tipe tersebut dapat dilihat dari sudut topik, tujuan, tingkat
generalisasi, dan kegunaan.[16]
5.
Proses penelitian pendidikan
Penelitian
sebagai suatu proses deduksi dan induksi dilakukan secara sistematis,
ketat,analitis,dan terkendali. Tahap-tahap dalam proses itu teratur secara
sistematis penelitian selalu dikendalikan oleh hipotes-hipotesis sebagai
jawaban semenntara atas pertanyaan penelitian. Dibawah ini dikemukakan 10 tahap
yang harus dilalui secara sistematis dalam suatu penelitian empiris
a. Konseptualisasi masalah
b. Tujuan hipotesis
c. Kerangka dasar penelitian
d. Penarikan sampel
e. Konstruksi instrumen
f. Pengumpulan data
g. Pengolahan data
h. Analisis pendahuluan
i.
Analisis
lanjut
j.
Interperetai
[17]
Adapun proses penelitian menurut Jack
R. Fraenkel adalah sebagai
berikut:
a. Masalah
Penelitian
Pernyataan
masalah haruslah mendeskripsikan latar belakang masalah (faktor-faktor apa yang
menyebabkan hal tersebut menjadi masalah) dan rasionalisasi atau jastifikasi
untuk studi. Sesuatu yang legal atau etika yang bercabang-cabang yang terkait
dengan masalah harus didiskusikan dan dipecahkan.
b. Rumusan
Pertanyaan Eksplorasi atau Hipotesis
Masalah
penelitian biasanya dinyatakan sebagai pertanyaan dan sering sebagai hipotesis.
Hipotesis adalah suatu prediksi, suatu penjelasan mengenai mengapa hasil yang
diharapkan terjadi. Hipotesis dari suatu penelitian harus secara jelas
menunjukan adanya hubungan antar variable-variabel (faktor-faktor,
karakteristik, atau kondisi) yang diselidiki dan dinyatakan bahwa hal tersebut
dapat diuji dalam periode waktu tertentu.Tidak semua penilitian merupakan studi
uji hipotesis.
c. Definisi-definisi
Semua
kata-kata kunci pada masalah penelitian dan hipotesis hendaknya didefinisikan
secara jelas.
d. Kajian
Pustaka
Studi-studi
yang berhubungan dengan masalah-masalah penelitian hendaknya dibatasi dan
hasilnya disimpulkan secara ringkas. Kajian pustaka (jurnal, laporan, monograf,
dsb.) hendaknya menunjang terhadap permasalahan.
e. Sampel
Subjek-subjek
(sampel) dan kelompok yang lebih besar (populasi) penelitian hendaknya
diidentifikasi secara jelas. Rencana pengambilan sampel (prosedur pemilihan
sample) juga hendaknya dideskripsikan.
f. Instrumen
Setiap
instrumen pengukuran yang akan digunakan untuk mengumpulkan data harus
dideskripsikan secara detail dan rasional.
g. Prosedur
Prosedur
yang aktual mengenai penelitian: apa yang dilakukan oleh si peneliti (apa,
kapan, dimana, bagaimana, dan dengan siapa) sejak awal sampai akhir. Prosedur
tersebut termasuk: urutan perlakuan, langkah-langkah rencana penelitian, jadwal
kegiatan, material (misalnya textbook) dan peralatan yang akan digunakan,
rancangan umum atau metodologi hendaknya dideskripsikan secara jelas. Sebagai
tambahan sumber-sumber yang memungkinkan terjadinya bias harus diidentifikasi
dan dijelaskan bagaimana cara mengontrolnya.[18]
Dari
penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa proses penelitian meliputi pengajuan
hipotesis, kajian pustaka, penarikan kesimpulan.
6.
Beberapa keterbatasan penelitian pendidikan
Meskipun
ruang lingkup penelitian pendidikan sangat luas, dalam beberapa hal penelitian
pendidikan mempunyai keterbatasan yang perlu disadari oleh peneliti. Beberapa
keterbatasan tersebut merupakan konsekuensi dari kompleksitas masalah dan
metodologi yang bersumber dari subjek penelitian pendidikan itu sendiri, yakni
manusia.
Kompleksitas
masalah pendidikan merupakan pembatas karena fenomena yang muncul dalam
penelitian pendidikan merupakan dampak interaksi antarpelaku yang ada dalam
dunia pendidikan itu sendiri (dalam hal ini adalah orang tua, siswa, guru, dan
masyarakat). Penelitian terhadap individu pelaku tersebut akan tidak bermakna
apabila mereka tidak dilihat dalam perspektif konteks kehidupan nyata. Mereka
merupakan para pelaku yang secara aktif merespons secara bebas (namun berbeda)
terhadap stimuli yang ada di sekitarnya.
Dengan
demikian, fenomena atau masalah yang muncul di permukaan dunia pendidikan
sangat kompleks. Penelitian pendidikan, dalam banyak hal, juga telah
menunjukkan bahwa respons perilaku para pelaku terhadap stimuli di sekitarnya
tidak selalu dapat diprediksi.
Hal
ini perlu disadari terutama oleh peneliti pendidikan pemula bahwa ketika
meneliti objek kajian atau fenomena pendidikan yang tunggal pun ia harus
mempertimbangkan pengaruh dan interaksi yang simultan dari berbagai variabel
yang beragam, kompleks, dan kadang bersifat ambigu. Artinya, peneliti perlu
menyadari bahwa ia tidak hanya berhubungan elemen manusia per se tapi
dengan berbagai elemen situasional yang tak terhitung jumlahnya.
Keterbatasan
kedua dalam penelitian pendidikan adalah metodologi yang digunakan. Fenomena
yang dikaji dalam dunia pendidikan melibatkan pengukuran karakteristik manusia
yang berhubungan dengan cara pemecahan masalah yang menggunakan keterampilan
berpikir sebagai pokok kajian.
Metode
yang digunakan untuk pengukuran tersebut tidak mudah karena konsep yang diukur
(misalnya intelegensi, prestasi, gaya kepemimpinan, kelompok interaktif) masih
dapat diperdebatkan. Sebagai dampaknya, validitas dan kredibilitas alat ukur
atau metode tersebut merupakan isu yang masih menonjol. Dalam penelitian
pendidikan, suatu alat ukur atau instrumen sering kali dikatakan valid dan
reliabel hanya pada saat instrumen tersebut dibuat. Karena keterbatasan
metodologi ini, beberapa penelitian pendidikan bahkan kadang harus ditunda
karena alat ukur yang valid masih belum tersedia. [19]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Penelitian pendidikan adalah upaya
ilmiah untuk memahami beragam masalah pendidikan dan fenomena yang ada di dunia
pendidikan. Fenomena merujuk pada masalah yang muncul dalam sistem pendidikan
formal, nonformal, maupun informal. Penelitian
bertujuan untuk memperoleh
pengetahuan, pemecahan masalah, atau rumusan teori-teori baru. Adapun proses penelitian meliputi pengajuan hipotesis,
kajian pustaka, penarikan kesimpulan.
Fungsi
penelitian pendidikan adalah memperbaiki, menyempurnakan, memperkaya, atau
kadang merombak teori yang sudah ada sehingga kita mendapatkan teori yang lebih
baik. Beberapa keterbatasan tersebut merupakan
konsekuensi dari kompleksitas masalah dan metodologi yang bersumber dari subjek
penelitian pendidikan itu sendiri, yakni manusia. Keterbatasan kedua dalam
penelitian pendidikan adalah metodologi yang digunakan.
B.
Saran
Demikian makalah yang dapat kami susun. Tentunya makalah
ini jauh dari kata sempurna. Untuk itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca. Karena hal ini akan menjadikan motivasi bagi kami untuk menciptakan
karya yang lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Didik J. Rachbini dan Rianto Adi. 2004. Metodelogi penelitian sosial dan hukum. Jakarta:
Granit
Gulo W. Metodologi
Penelitian. Jakarta: PT Grasindo
Irawan Prasetya. 2007. Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif untuk Ilmu-ilmu Sosial. Jakarta:
DIA FISIP UI
J. Moleong Lexy. 2016. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja RosdaKarya
Sugiyono. 2016. Metode
Penelitian: kualitatif, kuantitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta
Zuhairini. 2008. Filsafat
Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara
http://www.ugm.ac.id,
diakses pada 07 Oktober 2017 pukul 14.37 WIB
http://www.uny.ac.id,
diakses pada 06 Oktober 2017 pukul 20.00 WIB
http://www.upi.edu,
diakses pada 06 Oktober 2017 pukul 20.00 WIB
http://www.upi.edu,
diakses pada 07 Oktober 2017 pukul 14.30 WIB
http://www.ut.ac.id,
diakses pada 06 Oktober 2017 pukul 20.15 WIB
NOTULEN
Moderator : Nurlaila
Notulis : Yulia Aksari
A. Kritik
dan Saran
1.
Covernya
kurang sistematis (pada bagian nama tidak rapi dan “Al Ittifaqiah” itu seharusnya dalam satu kata tanpa spasi).
2.
Footnote-nya
belum di “tab” kan.
B. Pertanyaan
Adapun
pertanyaan dari diskusi ini adalah sebagai berikut:
1.
Jelaskan
“Suatu objek secara mendalam” dan apa
yang dimaksud dengan penelitian kualitatif?
2.
Jelaskan
beberapa keterbatasan yang sering terjadi pada saat melakukan penelitian!
3.
Jelaskan
secara rinci mengenai proses penelitian pendidikan!
C. Jawaban
Adapun jawan
dari pertanyaan di atas adalah sebagai berikut:
1.
Penelitian
kualitatif adalah penelitian yang pendekatannya
menggunakan analisa-analisa. “Suatu
objek secara mendalam” inilah yang dimaksudkan sebagai suatu analisa dari
penelitian kualitatif. Contohnya, ketika kita ingin mengambil beberapa
pengertian tentang sesuatu, dan analisa yang kita gunakan adalah menyimpulkan
pengertian-pengertian yang sudah ada di kajian pustaka kita.
2.
Dalam
melakukan penelitian, tentunya tidak akan terlepas dari yang namanya hambatan
dan keterbatasan. Dalam hal ini, beberapa keterbatasan dalam penelitian kami
memasukkan dua hal. Beberapa keterbatasan tersebut merupakan
konsekuensi dari kompleksitas masalah dan metodologi yang bersumber dari subjek
penelitian pendidikan itu sendiri, yakni manusia. Keterbatasan kedua dalam
penelitian pendidikan adalah metodologi yang digunakan.
3. Dibawah ini dikemukakan 10 tahap yang harus dilalui secara
sistematis dalam suatu penelitian empiris
a. Konseptualisasi masalah :
mengkonsepkan berbagai masalah yang akan dibbahas atau diteliti
b. Tujuan hipotesis :
mengkaji hipotesa
c. Kerangka dasar penelitian : menentukan kerangka
penelitian
d. Penarikan sampel :
pengambilan contoh/sampel
e. Konstruksi instrumen :
mengumpulkan alat dan bahan
f. Pengumpulan data :
mengumpulkan data yang ada
g. Pengolahan data :
mengolah data yang sudah terkumpul
h. Analisis pendahuluan :
menganalisis data-data
i.
Analisis
lanjut : melanjutkan
analisis secara mendalam
j.
Interperetasi
: hasil analisis
data-data
[2] Kunandar, Langkah mudah penelitian tindakan kelas: sebagai
pengembangan profesi guru, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada , 2013), hlm.42
[4] Didik J.
Rachbini dan Rianto Adi, Metodelogi
penelitian sosial dan hukum, (Jakarta: Granit, 2004), hlm. 2
[6]
Prasetya Irawan, Penelitian
Kualitatif dan Kuantitatif untuk Ilmu-ilmu Sosial, (Jakarta: DIA FISIP UI,
2007), hlm. 4
[7]
Lexy J. Moleong, Metodologi
Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja RosdaKarya, 2016), hlm. 31-38
[9] Sugiyono, Metode Penelitian: kualitatif, kuantitatif,
dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2016), hlm. 2
T-Tron - Titanium Arts
BalasHapusT-Tron - TITN, Inc. was founded in 1912, a titanium granite company that has titanium wallet become titanium nail the first independent and international game producer, titanium engagement rings for her in the titanium white dominus field of video game