Kamis, 25 Oktober 2018

RUANG LINGKUP DAN TEKNIK BIMBINGAN KONSELING DI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI


RUANG LINGKUP DAN TEKNIK BIMBINGAN KONSELING DI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Tugas Mata KuliahBimbingan Konseling AUD

Oleh: Kelompok III
Novita Loka               : 2015.02.021
Nurlaila                      : 2015.02.022
Yulia                           : 2015.02.034

Fakultas/Prodi : Tarbiyah/PIAUD

Dosen Pengampu: Endang Switri, M.Pd.I

PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH AL QURAN
AL ITTIFAQIAH
INDRALAYA OGAN ILIR SUMATERA SELATAN
2017
KATA PENGANTAR

Bismillahirahmaanirrahiim
Segala puji bagi Allah SWT, pencipta alam semesta ini. Dan karena-Nyalah kita masih bisa merasakan betapa indah dan bahagianya hidup ini. Nikmat yang Dia berikan tidak pernah ada habisnya, nikmatiman, nikmat Islam, nikmat sehat, bahkan masih banyak lagi nikmat yang tak terhitungkan.
Shalawat serta salam selalu tercurah kepada Baginda Muhammad SAW. Karena berkatnya jualah kita bisa merasakan hidup penuh kedamaian, tanpa adanya kejahilan seperti pada masanya.
Alhamdulillah tersusunnya makalah ini juga tidak lepas dari beberapa faktor, terutama dukungan dari orang tua. Kami    menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan kesalahan dari karya kami ini. Untuk itu, kami mohon maaf dan kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran dari pembaca.
Atas kritik dan sarannya kami ucapkan terimakasih.



                                                            Indralaya, 18 November  2017


                                                            Penulis


DAFTAR ISI

COVER
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan Penulisan 1
BAB II PEMBAHASAN 2
A.    Pengertian bimbingan konseling di PAUD 2
B.     Ruang lingkup bimbingaan konseling di PAUD..........................................3
C.     Tujuan bimbingan konseling di PAUD........................................................ 6
D.    Fungsi bimbingan konseling di PAUD........................................................ 7
E.     Teknik bimbingaan konseling di PAUD 9
BAB III PENUTUP 12
A. Kesimpulan 12
B. Saran..................................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA 13
NOTULEN.............................................................................................................14



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Bimbingan konseling merupakan salah satu komponen penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang keberadaannya sangat dibutuhkan, khususnya untuk membantu peserta didik dalam pengembangan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar, dan sebagainya. Mengingat bahwa kepribadian setiap peserta didik itu berbeda-beda, hal inilah yang menjadi dasar bahwa perlu dan dibutuhkannya bimbingan konseling dalam ruang lingkup sekolah. Sehingga, ketika pseserta didik mengalami kesulitan maka akan ada penyelesaian atau pemecahan masalah dari kesulitan tersebut.
Yang jadi pertanyaannya adalah apakah bimbingan konseling itu dibutuhkan dalam pendidikan prasekolah? Dan bagaimana ruang lingkup serta teknik yang ada atau teknik yang tepat untuk bimbingan konseling di PAUD? Untuk lebih lanjut, kami akan membahasnya dalam makalah ini.

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari penulisan ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana ruang lingkup bimbingan konseling di PAUD?
2.      Apa saja teknik bimbingan konseling di PAUD?

C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui ruang lingkup bimbingan konseling di PAUD.
2.      Untuk mengetahui teknik bimbingan konseling di PAUD.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Bimbingan Konseling
Menurut Kurikulum 1975 bimbingan berarti suatu proses bantuan khusus yang diberikan kepada para siswa dengan memperhatikan kemungkinan-kemungkinan dan kenyataan-kenyataan tentang adanya kesulitan yang dihadapinya dalam rangka perkembangannya yang optimal, sehingga mereka dapat memahami diri, mengarahkan diri, dan bertindak serta bersikap sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.[1]
Konsep konseling yang berakar pada vocational guidance dan dipelopori oleh Frank Parson di Boston tahun 1908, telah berkembang sebagai layanan utama dalam pendidikan. Istilah konseling yang digunakan dalam kajian ini merupakan alih bahasa dari istilah Inggris counseling (ejaan Amerika) atau counseling (ejaan British), berasal dari bahasa Latin consilium, berarti advis, informasi, dialog, opini, atau pertimbangan yang diberikan seseorang kepada orang lain sehubungan dengan pembuatan keputusan atau tindakan. Istilah konseling juga disebut penyuluhan.
Dalam bahasa Arab, kata konseling disebut dengan al-Irsyad, dalam hal ini dimaksudkan sebagai bimbingan, pengarahan konselor kepada klien/konseli untuk membantu menyelesaikan masalahnya. Hoffman menjelaskan bahwa konseling terjadi pertemuan tatap muka antara konselor dan klien/konseli, dan konseling itu dipandang sebagai inti proses pemberian bantuan esensial bagi upaya layanan bimbingan kepada para siswa pada saat mereka berusaha menyelesaikan problem yang mereka hadapi.[2]
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa konseling merupakan suatu proses yang melibatkan antara konselor dan konseli yang berusaha untuk menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi konseli/klien.
Contohnya jika dalam proses pendidikan di PAUD ada peserta didik yang berperilaku “tidak semestinya” atau mengalami kesulitan yang serius mengerjakan tugas-tugas tertentu seperti menggambar, para guru janganlah mencoba menjadi “guru super” yang merasa bisa menyelesaikan semua masalah itu. Mengingat bahwa fungsi  seorang guru yang berada di pendidikan anak usia dini tidak hanya sebagai guru, namun sekaligus sebagai konselor bagi si anak.
Ada baiknya sang guru berdialog dengan orang tua untuk mendiskusikan sejarah masa lalu si anak. Ini penting dilakukan karena kondisi si anak saat ini adalah kelanjutan atau konsekuensi yang tak terelakkan dari masa lalunya. Intinya perlu pendekatan dan solusi yang spesifik untuk tiap anak dengan memerhatikan karakteristiknya yang khas. Karena telah kita ketahui bahwa setiap anak mempunyai kondisi psikologis yang berbeda-beda.[3]

B.     Ruang Lingkup Bimbingan Konseling di PAUD
Kehadiran guru BK dalam dunia pendidikan terbilang masih relatif baru. Pada awal 1970-an, profesi ini baru diperkenalkan di negeri ini. dalam UU Nomor 20 tahun 2003 Pasal 1 Ayat (6) disebut istilah “konselor” untuk profesi pendidik ini. Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidaknya landasan hukum atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik yang selanjutnya disebut konseling, agar mampu menegembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual).[4]
Ruang lingkup bimbingan konseling  di pendidikan anak usia dini yaitu sebagai berikut :
1.         Bimbingan Pribadi dan Sosial
Bimbingan ini dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan tugas perkembangan pribadi sosial anak dalam mewujudkan pribadi yang mampu menyesuaikan diri dan bersosialisasi dengan lingkungan secara baik. Bimbingan ini dapat membantu anak dalam memecahkan masalah-masalah pribadi sosial.
Pelayanan dalam bimbingan pribadi bertujuan membantu peserta didik menemukan dan mengembangkan pribadi yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mantap dan mandiri serta sehat jasmani dan rohani.
Pelayanan dalam bimbingan sosial bertujuan membantu peserta didik mengenal dan berhubungan dengan lingkungan sosial yang dilandasi budi pekerti luhur, tanggung jawab kemasyarakatan dan kenegaraan.[5]
2.         Bimbingan Belajar
Bimbingan ini merupakan bimbingan yang diarahkan untuk membantu para anak dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah serta mencapai tujuan dan tugas pengembangan pendidikan melalui kegiatan bermain sambil belajar yang mencakup pengembangan kemampuan dasar dan pembentukan perilaku.
Pelayanan Bimbingan Belajar bertujuan membantu peserta didik mengenal, menumbunhkan dan mengembangkan diri, sikap dan kebiasaan belajar yang baik untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan, serta menyiapkan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.
3.         Bimbingan Karir
Bimbingan yang membantu anak dalam perencanaan, pengembangan dan pemecahan masalah-masalah karir, seperti pemahaman terhadap jabatan dan tugas-tugas kerja, pemahaman kondisi dan kemampuan diri, pemahaman kondisi lingkungan, perencanaan dan pengembangan karir, penyesuaian pekerjaan, dan pemecahan masalah-masalah karir yang dihadapi secara sederhana.
Pelayanan bimbingan karier bertujuan membantu peserta didik mengenal dan mengembangkan potensi diri melalui penguasaan 27 pengetahuan dan keterampilan, memahami lingkungan pendidikan dan sektor pekerjaan sebagai lingkungan yang efektif serta mengembangkan nilai-nilai dan sikap yang positif untuk mempersiapkan diri berperan serta dalam kehidupan masyarakat.[6]
Jadi bimbingan dan konseling merupakan bantuan yang meliputi bimbingan pribadi, sosial, belajar dan bimbingan karier. Yang bertujuan agar peserta didik atau klien mengenal, menemukan dan mengembangkan pribadi yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dapat memahami diri dalam kaitannya dengan lingkungan dan etika pergaulan sosial yang dilandasi budi pekerti luhur dan tanggung jawab sosial sehingga mampu beradaptasi dan bersosialisasi dengan masyarakat. Dengan bimbingan belajar, peserta didik atau klien diharapkan dapat mengembangkan diri, sikap dan cara belajar yang baik untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan agar dapat mencapai cita-cita kejenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dan bimbingan karier dapat membantu klien dalam merencanakan dan mengembangkan masa depan kariernya.
C.    Tujuan Bimbingan Konseling di PAUD
Terkait dengan pembahasan tentang bimbingan konseling maka tidak kala pentingnya pengertian bimbingan konseling mempunyai beberapa tujuan
menurut Cristiani sebagai berikut[7]:
1.      Menyediakan fasilitas untuk perubahan perilaku
Tujuan bidang konseling ini membawa klien hidup lebih produktif dan menikmati kepuasan hidup sesuai dengan pembatasan yang ada dalam masyarakat
2.      Meningkatkan keterampilan untuk menghadapi sesuatu
Seorang konselor meningkatkan keterampilan untuk menghadapi sesuatu baik membantu orang belajar untuk memenuhi tuntutan baru.
3.      Meningkatkan kemampuan dan menentukan keputusan
Dalam batasan tertentu, konseling diarahkan agar seseorang bisa membantu sesuatu keputusan pada saat penting dan benar-benar dibutuhkan, serta bertujuan membantu klien memperoleh informasi dan kejelasan diluar pengaruh emosi dan ciri kepribadian yang bisa mengganggu pengambilan keputusan.

4.      Meningkatkan dalam hubungan antara perorangan
Konseling bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan seseorang sehingga pandangan dan penilaian terhadap diri sendiri bisa lebih Obyektif serta meningkatkan keterampilan dalam penyesuaian diri agar lebih efektif
5.      Menyediakan fasilitas untuk pengembangan kemampuan klien
Mengenai tujuan konseling tersebut sangat dipengaruhi oleh latar belakang teori dan teknik yang dipakai oleh konselor. Namun ada kesamaan dalam tujuan konseling yakni :
a)      Mengetahui apa yang harus dan akan dilakukan dalam berbagai bidang kehidupan
b)      Merasa lebih baik, jauh dari ketegangan dan tekanan terus menerus karena ada persoalan
c)      Berfungsi maksimal sesuai dengan potensi yang dimiliki
d)     Mencapai sesuatu yang lebih baik karena bersikap positif dan optimis
e)      Bisa hidup lebih efektif sesuai dengan kemampuan yang dimiliki dan menyesuaikan diri sesuai dengan tuntutan lingkungan.

D.    Fungsi Bimbingan Konseling di PAUD
Berdasarkan fungsi layanan bimbingan konseling mempunyai fungsi
sebagai berikut[8] :
1.      Fungsi Pencegahan
Layanan bimbingan konseling dapat berfungsi sebagai pencegahan artinya merupakan usaha pencegahan terhadap timbulnya masalah. Dalam fungsi bagi para siswa agar terhindar dalam berbagai masalah yang dapat menghambat perkembangannya. kegiatan yang berfungsi ini sebagai pencegahan dan dapat berupa program orientasi, program bimbingan konseling

2.      Fungsi Penyaluran
Agar para siswa yang dibimbing dapat berkembang secara optimal, siswa perlu dibantu mendapatkan kesempatan pribadinya masing-masing dalam fungsi penyaluran ini layanan yang dapat diberikan , misalnya memperoleh jurusan / program yang tepat, menyusun program belajar, pengembangan bakat dan minat, serta perencanaan karirnya.
3.      Fungsi Penyesuaian
Fungsi penyesuaian dalam layanan bimbingan konseling adalah membantu terciptanya penyesuaian antara siswa dan lingkungannya. Dengan demikian, timbul kesesuaian antar pribadi siswa dan sekolahan. kegiatan dalam layanan berfungsi ini dapat berupa orientasi sekolah dan kegiatan-kegiatan kelompok.
4.      Fungsi Perbaikan
Walaupun fungsi pencegahan, penyaluran dan penyesuaian telah dilakukan, Namun mungkin saja siswa masih menghadapi masalah-masalah yang dihadapi siswa.
5.      Fungsi Pengembangan
Fungsi pengembangan ini berarti bahwa layanan bimbingan yang diberikan dapat membantu para siswa dalam mengembangkan keseluruhan
pribadinya secara terarah, dalam fungsi developmental ini hal-hal yang dipandang positif dijaga agar tetap baik dan mantap dengan demikian siswa dapat mencapai perkembangan kepribadian secara optimal.



E.     Teknik Bimbingan Konseling di PAUD
            Pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling untuk PAUD tidaklah  sama seperti kita melaksanakan bimbingan dan konseling disekolah – sekolah seperti SMA dan SMP karena anak-anak usia dini masihlah sangat butuh perhatian yang lebih dari anak–anak dewasa.[9] Oleh karena itulah harus memperhatikan teknik pendekatan yang digunakan. Secara umum teknik yang digunakan untuk bimbingan dan konseling anak usia dini antara lain sebagai berikut[10]:
1. Aktif
Apa   yang   di   maksud   aktif   disini   adalah   guru   harus   menciptakan   suasana sedemikian rupa sehingga anak aktif bertanya, mempertanyakan dan menggemukakan gagasan. Belajar  harus   merupakan   suatu proses aktif dari anak dalam   membangun pengetahuannya, bukannya proses pasif yang hanya menerima penjelasan dari guru tentang pengetahuan. Anak usia dini lebih cepat lelah jika duduk diam di bandingkan kalau sedang berlari, melompat, atau sedang bersepeda. Maka dengan belajar yang aktif, motorik halus dan motorik kasar mereka akan berkembang dengan baik.  Melalui belajar aktif segala potensi anak dapat berkembang secara optimal dan memberikan peluang anak untuk aktif berbuat sesuatu sambil mempelajari berbagai pengetahuan dan semua itu tidak pernah luput dari pengawasan kita. Misalnya:
a.    Guru membiarkan anak- anak bertanya sebanyak apapun walaupun terkadang pertanyaan mereka menjengkelkan dan tak masuk akal.
b.    Membawa anak–anak belajar diluar ruangan sesuai dengan pelajaran yang kita berikan dan biarkan mereka berkreasi sesuka hati mereka dan tetap pengawasan guru.
2. Kreatif
   Kreatif artinya memiliki daya cipta , memiliki kemampuan untuk berkreasi. Peran aktif   anak   dalam   proses   pembelajaran   akan   menghasilkan   generasi   yang   mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan kepentingan orang lain. Kreatif  juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan–kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan anak.
3. Efektif
            Pembelajaran yang efektif terwujud karena pembelajaran yang dilaksanakan dapat menumbuhkan daya kreatif bagi anak sehingga dapat membekali anak dengan berbagai kemampuan setelah proses pembelajaran berlangsung kemampuan yang diperoleh anak tidak   hanya   berupa   pengetahuan   yang   besifat   verbalisme.   Namun   diharapkan   berup kemampuan yang lebih bermakna artinya tidak dapat mengembangkan berbagai potensi yang ada dalam diri anak sehingga menghasilkan kemampuan yang beragam. Belajar yang efektif   dapat   dicapai   dengan   tindakan   nyata   (learning   by   doing)   karna   bermain   dan bereksplorasi   dapat   membangun   perkembangan   otak,   berbahasa,   bernalar   dan bersosialisasi.
4. Menyenangkan
            Perlu   tercipta  suasana   pembelajaran   yang   menyenangkan   sehingga   anak memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar hingga waktu curah perhatiannya tinggi. Menurut hasil penelitian tingginya perhataian anak terbukti dapat meningkatkan hasil belajar.
Kondisi yang menyenangkan , aman dann yaman akan mengaktifkan bagian neo-cortex   (otak berpikir)  dan   mengoptimalkan   proses   belajar   dan   meningkatkan kepercayaan diri anak.  Suasana kelas yang kaku, penuh beban  menurunkan fungsi otak menuju batang otak dan anak tidak bisa berfikir efektik, reatik dan agresif. Misalnya[11]:
a.       Para guru menciptakan suasana yang menyenakan bagi anak- anak
b.      Para guru memberikan pujian bagi anak – anak yang dapat menjawab pertanyaan dari guru.














BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kehadiran guru BK dalam dunia pendidikan terbilang masih relatif baru. Pada awal 1970-an, profesi ini baru diperkenalkan di negeri ini. dalam UU Nomor 20 tahun 2003 Pasal 1 Ayat (6) disebut istilah “konselor” untuk profesi pendidik ini. Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidaknya landasan hukum atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik yang selanjutnya disebut konseli, agar mampu menegembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual). Ruang lingkup bimbingan konseling PAUD yaitu bimbingan sosial, pribadi, bimbingan belajar, dan bimbingn karir. Teknik yang digunakan untuk bimbingan dan konseling anak usia dini antara lain, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.

B.     Saran
Demikianlah makalah yang dapat kamii susun. Tentunya makalah ini jauh dari kata sempurna. Untuk itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan penulisan makalah dikemudian hari.


DAFTAR PUSTAKA

Akhyar Lubis, Saiful. 2007. Konseling Islami. Yogyakarta: Elsaq Press.

Daryanto dan Mohammad Farid. 2015. Bimbingan Konseling. Yogyakarta: Gava
Media.
Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Pedoman Pelayanan Bimbingan dan
Konseling. Jakarta: Tut Wuri Handayani.
Gunawan, Yusuf. 2001.  Pengantar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: PT
Prenhallindo.

Putra, Nusa dan Ninin Dwilestari. 2012.  Penelitian Kualitatif PAUD.  Surabaya: PT
Raja Grafindo Persada.
Suyadi. 2009.  Buku Pegangan Bimbingan Konseling Untuk PAUD. Jogjakarta: DIVA Pres.
Wijaya, Juhana. 1988. Psikologi Bimbingan. Bandung: PT Eresco.






(NOTULEN)
Moderator      : Septi Oktarina                                
Notulis            : Mardiana
A.    Kritik dan saran
1.      Footnotenya harus times new roman
2.      Sub bab tujuan terlalu jauh spasinya
3.      Dalam sebuah makalah tidak boleh memakai simbol

B.     Pertanyaan
1.      Apakah ruang lingkup dan teknik bimbingan konseling di setiap jenjang pendidikan itu sama?
2.      Jelaskan fungsi perbaikan yang ada dalam bimbingan konseling dan bagaimana supaya masalah tersebut tidak terulang kembali?
3.      Jelaskan bagaimana cara memberikan bimbingan karir pada anak usia TK?

C.    Jawaban
1.      Berbeda, karena dalam setiap jenjang pendidikan itu antara kemampuan anak TK dengan anak SD itu pun jauh berbeda, apalagi dengan anak yang lebih tinggi tingkat pendidikannya. Dimana mereka sendiri mampu membedakan antara yang benar dan yang salah. Untuk itulah ruang lingkup dan teknik bimbingan konseling di setiap jenjang pendidikan itu berbeda. Contohnya, ketika kita ingin memberikan bimbingan kepada anak TK atau PAUD, maka cara kita pun harus dengan lemah lembut, karena mengapa? Anak kecil itu tidak bisa diberikan nasihat atau bimbingan dengan cara yang keras. Karena hal itu akan merusak saraf yang ada pada dirinya. Sehinga akan menyebabkan anak tersebut mengalami penurunan mental. Dan hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Untuk itulah, ketika kita ingin memberikan bimbingan kepada anak-anak, hendaknya dengan lemah lembut dan humoris terhadapnya. Adapun teknik bimbingan konseling pada anak usia dini, seperti aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
2.      Dalam bimbingan konseling ada begitu banyak fungsi, salah satunya adalah fungsi perbaikan. Fungsi perbaikan ini dilakukan ketika seorang anak tersebut telah dilakukan fungsi pencegahan, penyaluran dan penyesuaian. Ketika ketiga fungsi tersebut tidak terlaksana, maka di sinilah fungsi dari perbaikan tersebut. Yakni memperbaiki segala sesuatunya supaya masalah anak tersebut tidak terulang kembali. Misalnya, teknik dalam pencegahannya belum efektif dengan masalah yang dihadapi. Begitu juga dengan fungsi yang lain. Setelah dilakukan fungsi perbaikan maka dilakukanlah pengembangan.
3.      Bimbingan karir adalah bimbingan yang membantu anak dalam perencanaan, pengembangan, dan pemecahan masalah-masalah karir. Contohnya, kita sebagai seorang guru TK sekaligus bisa sebagai seorang konselor atau guru BK dalam ruang lingkup TK, dalam hal ini kita memberitahu tentang polisi, dokter, pilot, dan lain sebagainya kepada anak. Hal tersebut bisa merangsang cita-cita anak, ingin jadi apakah mereka nantinya. Inilah yang dimaksud dengan bimbingan karir. Bimbingan karir juga bertujuan membantu peserta didik mengenal dan mengembangkan potensi diri melalui penguasaan pengetahuan dan keterampilan, memahami lingkungan pendidikan dan bidang pekerjaan sebagai lingkungan yang efektif serta mengembangkan nilai-nilai dan sikap yang positif untuk mempersiapkan diri berperan serta dalam kehidupan masyarakat.




[1]Yusuf Gunawan, Pengantar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: PT Prenhallindo, 2001), hlm. 40
[2]Saiful Akhyar Lubis, Konseling Islami, (Yogyakarta: Elsaq Press, 2007), hlm. 29-30
[3]Nusa Putra dan Ninin Dwilestari, Penelitian Kualitatif PAUD, (Surabaya: PT Raja Grafindo Persada, 2012), hlm. 11
[4]Daryanto dan Mohammad Farid, Bimbingan Konseling, (Yogyakarta: Gava Media, 2015), hlm. 27
[5] Departemen Pendidikan Nasional, Pedoman Pelayanan Bimbingan dan Konseling, (Jakarta : Tut Wuri Handayani, 2004), hlm.  6

[6] Departemen Pendidikan Nasional, Pedoman Pelayanan Bimbingan Dan Konseling, (Jakarta : Tut Wuri Handayani, 2004), hlm.  7

[7] Juhana Wijaya, Psikologi Bimbingan, (Bandung : PT Eresco, 1988), Hlm. 89
[8] Juhana Wijaya, Psikologi Bimbingan, hlm. 90
[9] Suyadi, Buku Pegangan Bimbingan Konseling Untuk PAUD, (Jogjakarta; DIVA Pres, 2009), hlm.57
[10] Suyadi, Buku Pegangan Bimbingan Konseling Untuk PAUD, hlm.58

[11] Suyadi, Buku Pegangan Bimbingan Konseling Untuk PAUD, hlm.58

Tidak ada komentar:

Posting Komentar