RUANG LINGKUP DAN TEKNIK BIMBINGAN KONSELING DI PENDIDIKAN ANAK
USIA DINI
Tugas Mata KuliahBimbingan Konseling AUD
Oleh:
Kelompok III
Novita
Loka : 2015.02.021
Nurlaila : 2015.02.022
Yulia : 2015.02.034
Fakultas/Prodi
: Tarbiyah/PIAUD
Dosen
Pengampu: Endang Switri, M.Pd.I
PENDIDIKAN
ISLAM ANAK USIA DINI
SEKOLAH
TINGGI ILMU TARBIYAH AL QURAN
AL ITTIFAQIAH
INDRALAYA
OGAN ILIR SUMATERA SELATAN
2017
KATA
PENGANTAR
Bismillahirahmaanirrahiim
Segala
puji bagi Allah SWT, pencipta alam semesta ini. Dan karena-Nyalah kita masih bisa
merasakan betapa indah dan bahagianya hidup ini. Nikmat yang Dia berikan tidak pernah
ada habisnya, nikmatiman, nikmat Islam, nikmat sehat, bahkan masih banyak lagi nikmat
yang tak terhitungkan.
Shalawat
serta salam selalu tercurah kepada Baginda Muhammad SAW. Karena berkatnya jualah
kita bisa merasakan hidup penuh kedamaian, tanpa adanya kejahilan seperti pada masanya.
Alhamdulillah
tersusunnya makalah ini juga tidak lepas dari beberapa faktor, terutama dukungan
dari orang tua. Kami menyadari bahwa masih
banyak kekurangan dan kesalahan dari karya kami ini. Untuk itu, kami mohon maaf
dan kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran dari pembaca.
Atas
kritik dan sarannya kami ucapkan terimakasih.
Indralaya,
18 November 2017
Penulis
DAFTAR
ISI
COVER
KATA PENGANTAR
i
DAFTAR
ISI
ii
BAB I PENDAHULUAN
1
A. Latar Belakang
1
B. Rumusan Masalah
1
C. Tujuan
Penulisan
1
BAB II PEMBAHASAN
2
A.
Pengertian bimbingan konseling di PAUD
2
B. Ruang
lingkup bimbingaan konseling di PAUD..........................................3
C. Tujuan bimbingan konseling di PAUD........................................................ 6
D. Fungsi bimbingan konseling di PAUD........................................................ 7
E.
Teknik bimbingaan konseling di PAUD
9
BAB III PENUTUP
12
A. Kesimpulan
12
B.
Saran..................................................................................................................12
DAFTAR
PUSTAKA
13
NOTULEN.............................................................................................................14
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Bimbingan konseling
merupakan salah satu komponen penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang
keberadaannya sangat dibutuhkan, khususnya untuk membantu peserta didik dalam
pengembangan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar, dan sebagainya.
Mengingat bahwa kepribadian setiap peserta didik itu berbeda-beda, hal inilah
yang menjadi dasar bahwa perlu dan dibutuhkannya bimbingan konseling dalam
ruang lingkup sekolah. Sehingga, ketika pseserta didik mengalami kesulitan maka
akan ada penyelesaian atau pemecahan masalah dari kesulitan tersebut.
Yang jadi
pertanyaannya adalah apakah bimbingan konseling itu dibutuhkan dalam pendidikan
prasekolah? Dan bagaimana ruang lingkup serta teknik yang ada atau teknik yang
tepat untuk bimbingan konseling di PAUD? Untuk lebih lanjut, kami akan
membahasnya dalam makalah ini.
B. Rumusan
Masalah
Adapun rumusan masalah dari penulisan ini adalah sebagai
berikut:
1.
Bagaimana
ruang lingkup bimbingan konseling di PAUD?
2.
Apa
saja teknik bimbingan konseling di PAUD?
C. Tujuan
Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut:
1.
Untuk
mengetahui ruang lingkup bimbingan konseling di PAUD.
2.
Untuk
mengetahui teknik bimbingan konseling di PAUD.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Bimbingan Konseling
Menurut Kurikulum
1975 bimbingan berarti suatu proses bantuan khusus yang diberikan kepada para
siswa dengan memperhatikan kemungkinan-kemungkinan dan kenyataan-kenyataan
tentang adanya kesulitan yang dihadapinya dalam rangka perkembangannya yang
optimal, sehingga mereka dapat memahami diri, mengarahkan diri, dan bertindak
serta bersikap sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga,
dan masyarakat.[1]
Konsep konseling
yang berakar pada vocational guidance
dan dipelopori oleh Frank Parson di Boston tahun 1908, telah berkembang sebagai
layanan utama dalam pendidikan. Istilah konseling yang digunakan dalam kajian
ini merupakan alih bahasa dari istilah Inggris counseling (ejaan Amerika) atau counseling (ejaan British), berasal dari bahasa Latin consilium, berarti advis, informasi, dialog, opini, atau pertimbangan yang diberikan
seseorang kepada orang lain sehubungan dengan pembuatan keputusan atau
tindakan. Istilah konseling juga disebut penyuluhan.
Dalam bahasa Arab,
kata konseling disebut dengan al-Irsyad,
dalam hal ini dimaksudkan sebagai bimbingan, pengarahan konselor kepada
klien/konseli untuk membantu menyelesaikan masalahnya. Hoffman menjelaskan
bahwa konseling terjadi pertemuan tatap muka antara konselor dan klien/konseli,
dan konseling itu dipandang sebagai inti proses pemberian bantuan esensial bagi
upaya layanan bimbingan kepada para siswa pada saat mereka berusaha
menyelesaikan problem yang mereka hadapi.[2]
Dari penjelasan di
atas dapat disimpulkan bahwa konseling merupakan suatu proses yang melibatkan
antara konselor dan konseli yang berusaha untuk menyelesaikan suatu masalah
yang dihadapi konseli/klien.
Contohnya jika
dalam proses pendidikan di PAUD ada peserta didik yang berperilaku “tidak
semestinya” atau mengalami kesulitan yang serius mengerjakan tugas-tugas
tertentu seperti menggambar, para guru janganlah mencoba menjadi “guru super”
yang merasa bisa menyelesaikan semua masalah itu. Mengingat bahwa fungsi seorang guru yang berada di pendidikan anak
usia dini tidak hanya sebagai guru, namun sekaligus sebagai konselor bagi si
anak.
Ada baiknya sang
guru berdialog dengan orang tua untuk mendiskusikan sejarah masa lalu si anak.
Ini penting dilakukan karena kondisi si anak saat ini adalah kelanjutan atau
konsekuensi yang tak terelakkan dari masa lalunya. Intinya perlu pendekatan dan
solusi yang spesifik untuk tiap anak dengan memerhatikan karakteristiknya yang
khas. Karena telah kita ketahui bahwa setiap anak mempunyai kondisi psikologis
yang berbeda-beda.[3]
B. Ruang
Lingkup Bimbingan Konseling di PAUD
Kehadiran guru BK
dalam dunia pendidikan terbilang masih relatif baru. Pada awal 1970-an, profesi
ini baru diperkenalkan di negeri ini. dalam UU Nomor 20 tahun 2003 Pasal 1 Ayat
(6) disebut istilah “konselor” untuk profesi pendidik ini. Dasar pemikiran
penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah, bukan semata-mata terletak
pada ada atau tidaknya landasan hukum atau ketentuan dari atas, namun yang
lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik yang
selanjutnya disebut konseling, agar mampu menegembangkan potensi dirinya atau mencapai
tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual,
sosial, dan moral-spiritual).[4]
Ruang lingkup bimbingan konseling di pendidikan anak usia dini yaitu sebagai
berikut :
1.
Bimbingan Pribadi dan Sosial
Bimbingan ini dimaksudkan untuk
mencapai tujuan dan tugas perkembangan pribadi sosial anak dalam mewujudkan
pribadi yang mampu menyesuaikan diri dan bersosialisasi dengan lingkungan
secara baik. Bimbingan ini dapat membantu anak dalam memecahkan masalah-masalah
pribadi sosial.
Pelayanan
dalam bimbingan pribadi bertujuan membantu peserta didik menemukan dan
mengembangkan pribadi yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
mantap dan mandiri serta sehat jasmani dan rohani.
Pelayanan
dalam bimbingan sosial bertujuan membantu peserta didik mengenal dan
berhubungan dengan lingkungan sosial yang dilandasi budi pekerti luhur,
tanggung jawab kemasyarakatan dan kenegaraan.[5]
2.
Bimbingan Belajar
Bimbingan
ini merupakan bimbingan yang diarahkan untuk membantu para anak dalam
menghadapi dan memecahkan masalah-masalah serta mencapai tujuan dan tugas
pengembangan pendidikan melalui kegiatan bermain sambil belajar yang mencakup
pengembangan kemampuan dasar dan pembentukan perilaku.
Pelayanan Bimbingan Belajar bertujuan
membantu peserta didik mengenal, menumbunhkan dan mengembangkan diri, sikap dan
kebiasaan belajar yang baik untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan, serta
menyiapkan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.
3.
Bimbingan Karir
Bimbingan
yang membantu anak dalam perencanaan, pengembangan dan pemecahan
masalah-masalah karir, seperti pemahaman terhadap jabatan dan tugas-tugas
kerja, pemahaman kondisi dan kemampuan diri, pemahaman kondisi lingkungan,
perencanaan dan pengembangan karir, penyesuaian pekerjaan, dan pemecahan
masalah-masalah karir yang dihadapi secara sederhana.
Pelayanan bimbingan karier bertujuan
membantu peserta didik mengenal dan mengembangkan potensi diri melalui
penguasaan 27 pengetahuan dan keterampilan, memahami lingkungan pendidikan dan
sektor pekerjaan
sebagai lingkungan yang efektif serta mengembangkan nilai-nilai dan sikap yang
positif untuk mempersiapkan diri berperan serta dalam kehidupan masyarakat.[6]
Jadi bimbingan dan konseling merupakan
bantuan yang meliputi bimbingan pribadi, sosial, belajar dan bimbingan karier.
Yang bertujuan agar peserta didik atau klien mengenal, menemukan dan
mengembangkan pribadi yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
dapat memahami diri dalam kaitannya dengan lingkungan dan etika pergaulan
sosial yang dilandasi budi pekerti luhur dan tanggung jawab sosial sehingga
mampu beradaptasi dan bersosialisasi dengan masyarakat. Dengan bimbingan
belajar, peserta didik atau klien diharapkan dapat mengembangkan diri, sikap
dan cara belajar yang baik untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan agar
dapat mencapai cita-cita kejenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dan bimbingan
karier dapat membantu klien dalam merencanakan dan mengembangkan masa depan
kariernya.
C. Tujuan
Bimbingan Konseling di PAUD
Terkait
dengan pembahasan tentang bimbingan konseling maka tidak kala pentingnya
pengertian bimbingan konseling mempunyai beberapa tujuan
menurut Cristiani sebagai berikut[7]:
1. Menyediakan fasilitas untuk
perubahan perilaku
Tujuan
bidang konseling ini membawa klien hidup lebih produktif dan menikmati kepuasan
hidup sesuai dengan pembatasan yang ada dalam masyarakat
2. Meningkatkan keterampilan untuk
menghadapi sesuatu
Seorang
konselor meningkatkan keterampilan untuk menghadapi sesuatu baik membantu orang
belajar untuk memenuhi tuntutan baru.
3. Meningkatkan kemampuan dan
menentukan keputusan
Dalam
batasan tertentu, konseling diarahkan agar seseorang bisa membantu sesuatu
keputusan pada saat penting dan benar-benar dibutuhkan, serta bertujuan
membantu klien memperoleh informasi dan kejelasan diluar pengaruh emosi dan
ciri kepribadian yang bisa mengganggu pengambilan keputusan.
4. Meningkatkan dalam hubungan antara
perorangan
Konseling
bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan seseorang sehingga pandangan
dan penilaian terhadap diri sendiri bisa lebih Obyektif serta meningkatkan
keterampilan dalam penyesuaian diri agar lebih efektif
5.
Menyediakan
fasilitas untuk pengembangan kemampuan klien
Mengenai tujuan konseling tersebut
sangat dipengaruhi oleh latar belakang teori dan teknik yang dipakai oleh
konselor. Namun ada kesamaan dalam tujuan konseling yakni :
a) Mengetahui
apa yang harus dan akan dilakukan dalam berbagai bidang kehidupan
b) Merasa
lebih baik, jauh dari ketegangan dan tekanan terus menerus karena ada persoalan
c) Berfungsi
maksimal sesuai dengan potensi yang dimiliki
d) Mencapai
sesuatu yang lebih baik karena bersikap positif dan optimis
e) Bisa
hidup lebih efektif sesuai dengan kemampuan yang dimiliki dan menyesuaikan diri
sesuai dengan tuntutan lingkungan.
D. Fungsi
Bimbingan Konseling di PAUD
Berdasarkan
fungsi layanan bimbingan konseling mempunyai fungsi
sebagai berikut[8] :
1. Fungsi Pencegahan
Layanan
bimbingan konseling dapat berfungsi sebagai pencegahan artinya merupakan usaha
pencegahan terhadap timbulnya masalah. Dalam fungsi bagi para siswa agar
terhindar dalam berbagai masalah yang dapat menghambat perkembangannya. kegiatan
yang berfungsi ini sebagai pencegahan dan dapat berupa program orientasi,
program bimbingan konseling
2. Fungsi Penyaluran
Agar
para siswa yang dibimbing dapat berkembang secara optimal, siswa perlu dibantu
mendapatkan kesempatan pribadinya masing-masing dalam fungsi penyaluran ini
layanan yang dapat diberikan , misalnya memperoleh jurusan / program yang
tepat, menyusun program belajar, pengembangan bakat dan minat, serta
perencanaan karirnya.
3. Fungsi Penyesuaian
Fungsi
penyesuaian dalam layanan bimbingan konseling adalah membantu terciptanya
penyesuaian antara siswa dan lingkungannya. Dengan demikian, timbul kesesuaian
antar pribadi siswa dan sekolahan. kegiatan dalam layanan berfungsi ini dapat
berupa orientasi sekolah dan kegiatan-kegiatan kelompok.
4. Fungsi Perbaikan
Walaupun
fungsi pencegahan, penyaluran dan penyesuaian telah dilakukan, Namun mungkin
saja siswa masih menghadapi masalah-masalah yang dihadapi siswa.
5. Fungsi Pengembangan
Fungsi
pengembangan ini berarti bahwa layanan bimbingan yang diberikan dapat membantu
para siswa dalam mengembangkan keseluruhan
pribadinya secara
terarah, dalam fungsi developmental ini hal-hal yang dipandang positif dijaga
agar tetap baik dan mantap dengan demikian siswa dapat mencapai perkembangan
kepribadian secara optimal.
E. Teknik
Bimbingan Konseling di PAUD
Pelaksanaan layanan bimbingan dan
konseling untuk PAUD tidaklah sama
seperti kita melaksanakan bimbingan dan konseling disekolah – sekolah seperti
SMA dan SMP karena anak-anak usia dini masihlah sangat butuh perhatian yang
lebih dari anak–anak dewasa.[9]
Oleh karena itulah harus memperhatikan teknik pendekatan yang digunakan. Secara
umum teknik yang digunakan untuk bimbingan dan konseling anak usia dini antara
lain sebagai berikut[10]:
1.
Aktif
Apa yang
di maksud aktif
disini adalah guru
harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga anak aktif
bertanya, mempertanyakan dan menggemukakan gagasan. Belajar harus
merupakan suatu proses aktif
dari anak dalam membangun pengetahuannya,
bukannya proses pasif yang hanya menerima penjelasan dari guru tentang
pengetahuan. Anak usia dini lebih cepat lelah jika duduk diam di bandingkan
kalau sedang berlari, melompat, atau sedang bersepeda. Maka dengan belajar yang
aktif, motorik halus dan motorik kasar mereka akan berkembang dengan baik. Melalui belajar aktif segala potensi anak
dapat berkembang secara optimal dan memberikan peluang anak untuk aktif berbuat
sesuatu sambil mempelajari berbagai pengetahuan dan semua itu tidak pernah luput
dari pengawasan kita. Misalnya:
a.
Guru
membiarkan anak- anak bertanya sebanyak apapun walaupun terkadang pertanyaan
mereka menjengkelkan dan tak masuk akal.
b.
Membawa
anak–anak belajar diluar ruangan sesuai dengan pelajaran yang kita berikan dan
biarkan mereka berkreasi sesuka hati mereka dan tetap pengawasan guru.
2.
Kreatif
Kreatif artinya memiliki daya cipta ,
memiliki kemampuan untuk berkreasi. Peran aktif anak
dalam proses pembelajaran akan
menghasilkan generasi yang
mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan kepentingan
orang lain. Kreatif juga dimaksudkan
agar guru menciptakan kegiatan–kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi
berbagai tingkat kemampuan anak.
3.
Efektif
Pembelajaran yang efektif terwujud
karena pembelajaran yang dilaksanakan dapat menumbuhkan daya kreatif bagi anak
sehingga dapat membekali anak dengan berbagai kemampuan setelah proses
pembelajaran berlangsung kemampuan yang diperoleh anak tidak hanya
berupa pengetahuan yang
besifat verbalisme.
Namun diharapkan berup kemampuan yang lebih bermakna artinya
tidak dapat mengembangkan berbagai potensi yang ada dalam diri anak sehingga
menghasilkan kemampuan yang beragam. Belajar yang efektif dapat
dicapai dengan tindakan
nyata (learning by doing)
karna bermain dan bereksplorasi dapat
membangun perkembangan otak,
berbahasa, bernalar dan bersosialisasi.
4.
Menyenangkan
Perlu tercipta
suasana pembelajaran yang
menyenangkan sehingga anak memusatkan perhatiannya secara penuh
pada belajar hingga waktu curah perhatiannya tinggi. Menurut hasil penelitian
tingginya perhataian anak terbukti dapat meningkatkan hasil belajar.
Kondisi
yang menyenangkan , aman dann yaman akan mengaktifkan bagian neo-cortex (otak berpikir) dan
mengoptimalkan proses belajar
dan meningkatkan kepercayaan
diri anak. Suasana kelas yang kaku,
penuh beban menurunkan fungsi otak
menuju batang otak dan anak tidak bisa berfikir efektik, reatik dan agresif.
Misalnya[11]:
a.
Para
guru menciptakan suasana yang menyenakan bagi anak- anak
b.
Para
guru memberikan pujian bagi anak – anak yang dapat menjawab pertanyaan dari
guru.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kehadiran
guru BK dalam dunia pendidikan terbilang masih relatif baru. Pada awal 1970-an,
profesi ini baru diperkenalkan di negeri ini. dalam UU Nomor 20 tahun 2003
Pasal 1 Ayat (6) disebut istilah “konselor” untuk profesi pendidik ini. Dasar
pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah, bukan semata-mata
terletak pada ada atau tidaknya landasan hukum atau ketentuan dari atas, namun
yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik yang
selanjutnya disebut konseli, agar mampu menegembangkan potensi dirinya atau
mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi,
intelektual, sosial, dan moral-spiritual). Ruang lingkup bimbingan
konseling PAUD yaitu
bimbingan sosial, pribadi, bimbingan belajar, dan bimbingn karir. Teknik yang
digunakan untuk bimbingan dan konseling anak usia dini antara lain, aktif, kreatif, efektif dan
menyenangkan.
B. Saran
Demikianlah makalah yang dapat
kamii susun. Tentunya makalah ini jauh dari kata sempurna. Untuk itu, kami
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan penulisan
makalah dikemudian hari.
DAFTAR PUSTAKA
Akhyar Lubis, Saiful. 2007. Konseling Islami. Yogyakarta: Elsaq Press.
Daryanto dan Mohammad Farid. 2015. Bimbingan Konseling. Yogyakarta: Gava
Media.
Departemen
Pendidikan Nasional. 2004.
Pedoman Pelayanan Bimbingan dan
Konseling. Jakarta: Tut Wuri Handayani.
Gunawan, Yusuf. 2001. Pengantar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: PT
Prenhallindo.
Putra, Nusa dan Ninin Dwilestari. 2012. Penelitian Kualitatif PAUD. Surabaya: PT
Raja Grafindo Persada.
Suyadi. 2009. Buku Pegangan Bimbingan Konseling Untuk PAUD. Jogjakarta: DIVA Pres.
Wijaya, Juhana. 1988. Psikologi Bimbingan. Bandung: PT Eresco.
(NOTULEN)
Moderator : Septi
Oktarina
Notulis :
Mardiana
A. Kritik
dan saran
1.
Footnotenya
harus times new roman
2.
Sub
bab tujuan terlalu jauh spasinya
3.
Dalam
sebuah makalah tidak boleh memakai simbol
B. Pertanyaan
1.
Apakah
ruang lingkup dan teknik bimbingan konseling di setiap jenjang pendidikan itu
sama?
2.
Jelaskan
fungsi perbaikan yang ada dalam bimbingan konseling dan bagaimana supaya
masalah tersebut tidak terulang kembali?
3.
Jelaskan
bagaimana cara memberikan bimbingan karir pada anak usia TK?
C. Jawaban
1.
Berbeda,
karena dalam setiap jenjang pendidikan itu antara kemampuan anak TK dengan anak
SD itu pun jauh berbeda, apalagi dengan anak yang lebih tinggi tingkat
pendidikannya. Dimana mereka sendiri mampu membedakan antara yang benar dan
yang salah. Untuk itulah ruang lingkup dan teknik bimbingan konseling di setiap
jenjang pendidikan itu berbeda. Contohnya, ketika kita ingin memberikan
bimbingan kepada anak TK atau PAUD, maka cara kita pun harus dengan lemah
lembut, karena mengapa? Anak kecil itu tidak bisa diberikan nasihat atau
bimbingan dengan cara yang keras. Karena hal itu akan merusak saraf yang ada
pada dirinya. Sehinga akan menyebabkan anak tersebut mengalami penurunan mental.
Dan hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Untuk itulah, ketika kita ingin
memberikan bimbingan kepada anak-anak, hendaknya dengan lemah lembut dan
humoris terhadapnya. Adapun teknik bimbingan konseling pada anak usia dini,
seperti aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
2.
Dalam
bimbingan konseling ada begitu banyak fungsi, salah satunya adalah fungsi
perbaikan. Fungsi perbaikan ini dilakukan ketika seorang anak tersebut telah
dilakukan fungsi pencegahan, penyaluran dan penyesuaian. Ketika ketiga fungsi
tersebut tidak terlaksana, maka di sinilah fungsi dari perbaikan tersebut.
Yakni memperbaiki segala sesuatunya supaya masalah anak tersebut tidak terulang
kembali. Misalnya, teknik dalam pencegahannya belum efektif dengan masalah yang
dihadapi. Begitu juga dengan fungsi yang lain. Setelah dilakukan fungsi
perbaikan maka dilakukanlah pengembangan.
3.
Bimbingan
karir adalah bimbingan yang membantu anak dalam perencanaan, pengembangan, dan
pemecahan masalah-masalah karir. Contohnya, kita sebagai seorang guru TK
sekaligus bisa sebagai seorang konselor atau guru BK dalam ruang lingkup TK,
dalam hal ini kita memberitahu tentang polisi, dokter, pilot, dan lain
sebagainya kepada anak. Hal tersebut bisa merangsang cita-cita anak, ingin jadi
apakah mereka nantinya. Inilah yang dimaksud dengan bimbingan karir. Bimbingan
karir juga bertujuan membantu peserta didik mengenal dan mengembangkan potensi
diri melalui penguasaan pengetahuan dan keterampilan, memahami lingkungan
pendidikan dan bidang pekerjaan sebagai lingkungan yang efektif serta
mengembangkan nilai-nilai dan sikap yang positif untuk mempersiapkan diri
berperan serta dalam kehidupan masyarakat.
[1]Yusuf
Gunawan, Pengantar Bimbingan dan
Konseling, (Jakarta: PT Prenhallindo, 2001), hlm. 40
[3]Nusa
Putra dan Ninin Dwilestari, Penelitian
Kualitatif PAUD, (Surabaya: PT Raja Grafindo Persada, 2012), hlm. 11
[4]Daryanto
dan Mohammad Farid, Bimbingan Konseling, (Yogyakarta:
Gava Media, 2015), hlm. 27
[5]
Departemen
Pendidikan Nasional, Pedoman Pelayanan
Bimbingan dan
Konseling, (Jakarta
: Tut Wuri Handayani, 2004), hlm.
6
[6]
Departemen
Pendidikan Nasional, Pedoman Pelayanan
Bimbingan Dan Konseling, (Jakarta : Tut Wuri Handayani,
2004), hlm.
7
[7]
Juhana
Wijaya, Psikologi Bimbingan, (Bandung
: PT Eresco, 1988), Hlm. 89
[9]
Suyadi, Buku Pegangan Bimbingan Konseling Untuk PAUD, (Jogjakarta; DIVA Pres, 2009), hlm.57
[10]
Suyadi, Buku Pegangan Bimbingan
Konseling Untuk PAUD, hlm.58
Tidak ada komentar:
Posting Komentar