A.
Hakikat
Anak Usia Dini
Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang menjalani
suatu proses perkembangan dengan pesat dan fundamental bagi kehidupan
selanjutnya. Anak usia dini berada pada rentang usia 0-8 tahun. Pada masa ini
proses pertumbuhan dan perkembangan dalam berbagai aspek sedang mengalami masa
yang cepat dalam rentang perkembangan hidup manusia. Proses pembelajaran
sebagai bentuk perlakuan yang diberikan pada anak harus memperhatikan
karakteristik yang dimiliki setiap tahapan perkembangan anak.
Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan
yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang
dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan
dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki
pendidikan lebih lanjut. Pendidikan Anak Usia Dini merupakan salah satu bentuk
penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakkan dasar ke arah
pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar),
kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual).[1]
Pendidikan bagi anak usia dini adalah pemberian upaya
untuk menstimulasi, membimbing, mengasuh dan pemberian kegiatan pembelajaran
yang akan rnenghasilkan kemampuan dan keterampilan anak. Pendidikan bagi anak
usia dini merupakan sebuah pendidikan yang dilakukan pada anak yang baru lahir
sampai dengan delapan tahun. Usia dini lahir sampai enam
tahun merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan
kepribadian seorang anak. Usia itu sebagai usia penting bagi pengembangan
inteligensi permanen dirinya, mereka juga mampu menyerap informasi yang sangat
tinggi. Informasi tentang potensi yang dimiliki anak usia itu, sudah banyak
terdapat pada media massa dan media elektronik lainnya.
B.
Tinjauan Historis Anak
Usia Dini
Berdasarkan
catatan sejarah, telah berlangsung beberapa abad lamanya anak- anak dipandang
sebagai miniatur orang dewasa. Anak- anak dianggap telah terbentuk sepenuhnya
sebagaimana orang dewasa pada umumnya. Diperkirakan paham ini telah merata dan
mendominasi abad pertengahan. Pandangan tersebut tercermin pada lukisan-
lukisan yang dibuat pada abad pertengahan, dimana secara umum anak- anak,
bahkan anak baru lahir diilustrasikan dengan proporsi tubuh dan karakteristik
wajah sebagaimana orang dewasa. Anak- anak dan orang dewasa dibedakan hanya
pada ukuran tubuhnya saja.
Fakta ini merupakan bukti bahwa anak- anak dianggap telah
mencapai bentuk sempurna. Mereka sejak awal sudah dalam cetakan orang dewasa.
Pandangan demikian juga berlaku dalam aspek sosial, dimana anak- anak di
perlakukan sebagai orang dewasa. Pada usia enam tahun atau tujuh tahun,
biasanya mereka telah memasuki masyarakat orang dewasa, bekerja, berbaur, dan
bermain dengan orang- orang dewasa.
Sebagian ahli sejarah tidak setujuh terhadap pandangan
tersebut yang dinilai berlebihan karena memandang anak sebagai orang dewasa
kecil. Namun demikian, paham performansi yang memandang anak sebagai miniatur
orang dewasa ini juga banyak didukung oleh banyak kalangan. [2]
C.
Rentang Usia Anak Usia
Dini
Anak yang berada pada
rentang 0- 6 tahun yang tercakup dalam karakteristik anak usia dini:
1.
Memiliki rasa ingin tahu yang besar.
2.
Merupakan pribadi yang unik.
3.
Suka Berfantasi dan berimajinasi.
4.
Masa paling potensial untuk belajar.
5.
Menunjukkan sikap egosentris.
6.
Memiliki rentang daya akomodasi yang pendek.
7.
Bagian dari mahluk sosial.
D.
Pertumbuhan Fisik dan
Kognitif Bayi
Pertumbuhan Fisik Pada
Bayi :
1.
Refleks
Bagaimanaikah
sesungguhnya refleks pada masa bayi itu. Bayi tidak lagi dipandang sebagai
organisme yang pasif, yang tidak dapat berbuat apapun. Bayi – bayi yang baru
lahir memang terbatas secara fisik. Namun, refleks – gerakan otomatis –
membantu perilaku bayi yang baru lahir itu. Misalnya, menghisap. Bagi bayi
menghisap adalah suatu metode yang penting untuk memperoleh gizi dan suatu
kegiatan yang menyenangkan.
2.
Tinggi
dan Berat
Rata – rata bayi yang
baru lahir di Amerika panjangnya 20 inchi dan beratnya 7 ½ pon. Bayi bertumbuh
sekitar 1 inchi per bulan selama tahun pertama dan bertambah berat hampir tiga
kali lipat dari tahun pertama kelahiran mereka. Tingkat pertumbuhan bayi
menurun pada tahun kedua.[3]
3.
Keterampilan
Motorik Kasar dan Halus
Keterampilan motorik
kasar meliputi kegiatan-kegiatan otot besar seperti menggerakkan lengan dan
berjalan. Sejumlah peristiwa penting motorik kasar terjadi pada kira – kira
usia 12 hingga 13 bulan. Keterampilan motorik harus meliputi gerakan yang lebih
halus dibandingkan dengan gerak motorik kasar, dan mencakup keterampilan
seperti kecekatan jari. Sejumlah peristiwa penting motorik halus terjasdi pada
masa bayi, diantaranya perkembangan keterampilan meraih dan menggenggam.
4.
Keadaan
Klasifikasi
Para peneliti telah
merangkaikan sistem klasifikasi yang berbeda ; salah satunya yang meliputi
tujuh kategori keadaan bayi, termasuk tidur nyenyak, mengantuk, waspada dan
terfokus, dan terfokus secara kaku. Bayi – bayi yang baru lahir biasannya tidur
16 hingga 17 jam sehari. Pada usia 4 bulan, mereka mendekati pola tidur orang
dewasa. Aktivitas tidur yang terjadi pada masa bayi sering kali ditandai dengan
gerakan bola mata yang tidak teratur saat mata mereka tertutup. Aktivitas ini
disebut juga REM slip (rapid eyes movement) tingginya persentase tidur REM
(kjira – kira setengah dari waktu tidur bayi) dapat merupakan alat rangsang
tersendiri, atau dapat pula meningkatkan perkembangan otak. Sindrom kematian
bayi tiba-tiba (sudden infant death syndrome) adalah suatu kondisi yang terjadi
ketika seorang bayi berhenti bernapas dan meninggal secara tiba-tiba tanpa
penyebab yang jelas.
5.
Gizi
Bayi-bayi harus
mengkonsumsi sekitar 50 kalori per hari, atas setiap pon berat mereka. Konsensus
yang sedang berkembang saat ini ialah meminum asi lebih baik daripada
mengkonsumsi makanan botol, tetapi meningkatnya jumlah ibu-ibu pekerja berarti
lebih sedikit bayi yang minum asi.
6.
Pelatihan
buang air
Terlatih buang air
adalah suatu keterampilan fisik motorik yang pada umumnya dicapai pada usia 3
tahun di dalam kebudayaan Amerika Utara. Akhir-akhir ini ada suatu
kecenderungan untuk memulai pelatihan buang air lebih awal dibandingkan dengan
di masa lalu; banyak orang tua dewasa mulai pelatihan buang air bagi anak-anak
mereka yang baru belajar berjalan pada usia sekitar 20 bulan hingga 2 tahun.
Pada perkembangan Kognitif Bayi dalam Teori Piaget Tahap sensori-motorik.
Tahap ini berlangsung
dari lahir hingga kira-kira usia 2 tahun dan meliputi kemajuan dalam kemampuan
bayi untuk mengkoordinasikan sensasi yang ia terima melalui gerakan-gerakan
fisik. Tahap ini memiliki enam subtahap: refleks sederhana, kebiasaan pertama
dan reaksi sirkuler primer, reaksi sirkuler sekunder (Reproduksi kejadian yang
menarik), koordinasi reaksi sirkuler sekunder, reaksi sirkuler tersier
keingintahuan akan sesuatu yang baru, dan internalisasi skema.
Piaget
membagi tahap sensori- motorik dalam enam periode, yaitu:
Periode
1 : Refleks (umur 0 – 1 bulan)
Periode paling awal
tahap sensorimotor adalah periode refleks. Ini berkembang sejak bayi lahir
sampai sekitar berumur 1 bulan. Pada periode ini, tingkah laku bayi kebanyak
bersifat refleks, spontan, tidak disengaja, dan tidak terbedakan. Tindakan
seorang bayi didasarkan pada adanya rangsangan dari luar yang ditanggapi secara
refleks.
Periode
2 : Kebiasaan (umur 1 – 4 bulan)
Pada periode
perkembangan ini, bayi mulai membentuk kebiasan-kebiasaan pertama. Kebiasaan
dibuat dengan mencoba-coba dan mengulang-ngulang suatu tindakan.
Refleks-refleks yang dibuat diasimilasikan dengan skema yang telah dimiliki dan
menjadi semacam kebiasaan, terlebih dari refleks tersebut menghasilkan sesuatu.
Pada periode ini, seorang bayi mulai membedakan benda-benda di dekatnya. Ia
mulai mengaakan diferensiasi akan macam-macam benda yang dipegangnya. Pada
periode ini pula, koordinasi tindakan bayi mulai berkembang dengan penggunaan
mata dan telinga. Bayi mulai mengikuti benda yang bergerak dengan matanya. Ia
juga mulai menggerakkan kepala kesumber suara yang ia dengar. Suara dan
penglihatan bekerja bersama. Ini merupakan suatu tahap penting untuk
menumbuhkan konsep benda.
Periode
3 : Reproduksi kejadian yang menarik (umur 4 – 8 bulan)
Pada periode ini,
seorang bayi mulai menjamah dan memanipulasi objek apapun yang ada di
sekitarnya. Tingkah laku bayi semakin berorientasi pada objek dan kejadian di
luar tubuhnya sendiri. Ia menunjukkan koordinasi antara penglihatan dan rasa
jamah. Pada periode ini, seorang bayi juga menciptakan kembali
kejadian-kejadian yang menarik baginya. Ia mencoba menghadirkan dan mengulang
kembali peristiwa yang menyenangkan diri (reaksi sirkuler sekunder). Piaget
mengamati bahwa bila seorang anak dihadapkan pada sebuah benda yang dikenal,
seringkali hanya menunjukkan reaksi singkat dan tidak mau memperhatikan agak
lama. Oleh Piaget, ini diartikan sebagai suatu “pengiaan” akan arti benda itu
seakan ia mengetahuinya.
Periode
4 : Koordinasi Skemata (umur 8 – 12 bulan)
Pada periode ini,
seorang bayi mulai membedakan antara sarana dan hasil tindakannya. Ia sudah
mulai menggunakan sarana untuk mencapai suatu hasil. Sarana-sarana yang
digunakan untuk mencapai tujuan atau hasil diperoleh dari koordinasi
skema-skema yang telah ia ketahui. Bayi mulai mempunyai kemampuan untuk
menyatukan tingkah laku yang sebelumnya telah diperoleh untuk mencapai tujuan
tertentu. Pada periode ini, seorang bayi mulai membentuk konsep tentang tetapnya
(permanensi) suatu benda. Dari kenyataan bahwa dari seorang bayi dapat mencari
benda yang tersembunyi, tampak bahwa ini mulai mempunyaikonsep tentang ruang.
Periode
5 : Eksperimen (umur 12 – 18 bulan)
Unsur pokok pada perode
ini adalah mulainya anak memperkembangkan cara-cara baru untuk mencapai tujuan
dengan cara mencoba-coba (eksperimen) bila dihadapkan pada suatu persoalan yang
tidak dipecahkan dengan skema yang ada, anak akan mulai mecoba-coba
dengan Trial and Error untuk menemukan cara yang baru guna
memecahkan persoalan tersebut atau dengan kata lain ia mencoba mengembangkan
skema yang baru. Pada periode ini, anak lebih mengamati benda-benda
disekitarnya dan mengamati bagaimana benda-benda di sekitarnya bertingkah laku
dalam situasi yang baru. Menurut Piaget, tingkah anak ini menjadi intelegensi
sewaktu ia menemukan kemampuan untuk memecahkan persoalan yang baru. Pada
periode ini pula, konsep anak akan benda mulai maju dan lengkap.
Periode
6: Refresentasi (umur 18 – 24 bulan)
Periode ini adalah periode
terakhir pada tahap intelegensi sensorimotor. Seorang anak sudah mulai dapat
menemukan cara-cara baru yang tidak hanya berdasarkan rabaan fisis dan
eksternal, tetap juga dengan koordinasi internal dalam gambarannya. Pada
periode ini, anak berpindah dari periode intelegensi sensori motor ke
intelegensi refresentatif. Secara mental, seorang anak mulai dapat
menggambarkan suatu benda dan kejadian, dan dapat menyelesaikan suatu persoalan
dengan gambaran tersebut. Konsep benda pada tahap ini sudah maju, refresentasi
ini membiarkan anak untuk mencari dan menemukan objek-objek yang tersembunyi.
Sedangkan konsep keruangan, anak mulai sadar akan gerakan suatu benda sehingga
dapat mencarinya secara masuk akal bila benda itu tidak kelihatan lagi.
E.
Pandangan
Islam Tentang Anak Usia Dini
Sungguh
Allah Subhanahu Wata’ala telah memberikan berbagai macam amanah dan tanggung
jawab kepada manusia. Diantara amanah dan tanggung jawab terbesar yang Allah
Ta’ala bebankan kepada manusia, dalam hal ini orang tua (termasuk guru,
pengajar atau pun pengasuh) adalah memberikan pendidikan yang benar terhadap
anak. Yang demikian ini merupakan penerapan dari firman Allah Ta’ala:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah
diri dan keluarga kalian dari api neraka”
(QS. At-Tahrim:6).
Risalah Hadist Nabi
telah menyelenggarakan pendidikan kepada anak usia dini, arti bahwa
penyelenggaraan pendidikan pendidikan kepada anak usia dini adalah merupakan
perintah yang didalamnya memiliki makna ibadah yang Agung. Inilah kesempurnaan
sebuah ajaran, dimana Islam mengajarkan tentang pentingnya proses pembentukan
generasi muslim dari sejak sedini mungkin untuk membangun pribadi-pribadi
muslim yang kaffah (sempurna).[4]
Beberapa landasan
Hadist yang menerangkan betapa pentingnya mendidik anak sejak usia dini, dapat
di renungkan dalam arti hadist berikut:
Artinya : “ Setiap anak dilahirkan atas fitrah
(kesucian agama yang sesuai dengan naluri), sehingga lancar lidahnya, maka
kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia beragama Yahudi, Nasrani, atau
Majusi.” (H.R. Bukhori).
Kesimpulan
Seorang anak yang baru
lahir, ia masih berada dalam keadaan lemah, naluri dan fungsi-fungsi fisik
maupun psikisnya belum berkembang dengan sempurna. Hal yang dibutuhkan anak
agar tumbuh menjadi anak yang cerdas adalah adanya upaya-upaya pendidikan
sepertiu terciptanya lingkungan belajar yang kondusif, memotivasi anak untuk
belajar, dan bimbingan serta arahan kearah perkembangan yang optimal. Dengan
begitu menumbuhkan kecerdasan anak yaitu mengaktualisasikan potensi yang ada
dalam diri anak.
Masa usia dini
merupakan Periode emas yang merupakan periode kritis bagi anak, dimana
perkembangan yang diperoleh pada periode ini sangat berpengaruh terhadap
perkembangan periode berikutnya hingga masa dewasa. Sementara masa emas ini
hanya datang sekali, sehingga apabila terlewat berarti habislah peluangnya.
Untuk itu pendidikan untuk usia dini dalam bentuk pemberian
rangsangan-rangsangan (stimulasi) dari lingkungan terdekat sangat diperlukan
untuk mengoptimalkan kemampuan anak. Ditinjau dari psikologi perkembangan, usia
6-8 tahun memang masih berada dalam rentang usia 0-8 tahun. Itu berarti
pendidikan yang diberikan dalam keluarga maupun di lembaga pendidikan formal
haruslah kental dengan nuansa pendidikan anak usia dini, yakni dengan
mengutamakan konsep belajar melalui bermain.
DAFTAR
PUSTAKA
Yus,Anita. 2011. Model Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta Kencana Prenada Media
Group.
Kartono,Ani. 2007. Psikologi
Anak. Bandung:Cv. Mandar Maju.
Santoso Soegeng,dkk. 2005. Dasar-Dasar
Pendidikan TK. Jakarta:Universitas Terbuka.
Mulyasa, H.E. 2012. Manajemen
PAUD. Bandung:PT. Remaja Rosdakarya.
[1] Yus Anita, 2011, Model
Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta Kencana Prenada Media Group, hal 102
[2]
Kartono,Ani.
2007. Psikologi Anak. Bandung:Cv. Mandar Maju, hal 50
[3]
Santoso
Soegeng,dkk. 2005. Dasar-Dasar Pendidikan TK. Jakarta:Universitas
Terbuka, hal 6
[4] Mulyasa, H.E. 2012. Manajemen
PAUD. Bandung:PT. Remaja Rosdakarya, hal 90
Tidak ada komentar:
Posting Komentar