NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM SURAT LUQMAN: 12-15
Tugas Mata Kuliah Tafsir Al-Qur’an II
Oleh:
Ahmad Nabil Hidayat :
2015.02.002
Novita Loka
: 2015.02.021
Pitri Amelia : 2015.02.024
Fakultas/Prodi : Tarbiyah/PIAUD
Dosen Pengampu: Tapaul Habdin, Lc, MA
PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH AL QURAN AL ITTIFAQIAH
INDRALAYA OGAN ILIR SUMATERA SELATAN
2017
KATA PENGANTAR
Bismillahirahmaanirrahiim
Segala
puji bagi Allah SWT, pencipta alam semesta ini. Dan karena-Nya lah kita masih
bisa merasakan betapa indah dan bahagianya hidup ini. Nikmat yang Dia berikan
tidak pernah ada habisnya, nikmat iman, nikmat Islam, nikmat sehat, bahkan
masih banyak lagi nikmat yang tak terhitungkan. Shalawat serta salam selalu
tercurah kepada Baginda Muhammad SAW. Karena berkatnya jualah kita bisa
merasakan hidup penuh kedamaian, tanpa adanya kejahilan seperti pada masanya.
Alhamdulillah
tersusunnya makalah ini juga tidak lepas dari beberapa faktor, terutama
dukungan dari orangtua. Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan
kesalahan dari karya kami ini. Untuk itu, kami mohon maaf dan kami sangat
mengharapkan adanya kritik dan saran dari penulis.
Atas
kritik dan sarannya kami ucapkan terima kasih.
Indralaya,
24 Maret 2017
Penulis
DAFTAR ISI
COVER
KATA PENGANTAR
i
DAFTAR ISI
ii
BAB I PENDAHULUAN
1
A. Latar Belakang
1
B. Rumusan Masalah
1
C. Tujuan
2
BAB II PEMBAHASAN
3
A. Makna dan Kandungan Surat Luqman: 12-15
3
B. Nilai-nilai Pendidikan dalam Surat Luqman: 12-15 ...............................8
C.Keutamaan Biruul Walidain...................................................................11
BAB III PENUTUP
13
A. Kesimpulan
13
B.
Saran......................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA
15
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Sejak
al-Qur’an diturunkan, al-Qur’an diprogram sebagai petunjuk bagi umat manusia
hingga akhir zaman. Dan tentunya, di dalam al-Qur’an terdapat berbagai kiasan
bahasa. Untuk itulah dibutuhkan sesuatu yang mampu membuat makna al-Qur’an
tersebut menjadi dapat dimengerti oleh berbagai kalangan dari manapun. Dalam
hal ini disebut tafsir.
Tafsir
merupakan kata yang sudah tidak asing lagi didengar. Tafsir sudah ada sejak
zamannya Rasulullah SAW. Yang mana ahli tafsir atau penafsirnya adalah
Rasulullah sendiri. Karena pada saat itu al-Qur’an masih dalam proses
diturunkan atau masih dalam pewahyuan. Setelah ayat-ayat tertentu turun, maka
banyak para sahabat yang bertanya kepada Rasulullah SAW, hal inilah yang
menjadi alasan utama bahwa penafsir pertama adalah Rasulullah SAW itu sendiri.
Sekarang
banyak sekali masalah yang berkaitan dengan perbuatan buruk anak kepada orang
tua. Contohnya saja penganiayaan orangtua yang dilakukan oleh anaknya sendiri. Untuk itulah pemakalah ingin membahas masalah
“memuliakan orang tua” sering dikenal dengan birrul walidain. Akan tetapi, pembahasan ini akan lebih dikhususkan
lagi ke masalah pendidikannya. Jadi bagaimanakah nilai-nilai pendidikan yang
ada dalam surat Luqman ayat 12-15? Pertanyaan tersebut akan dibahas di dalam
makalah ini.
B.
Rumusan
Masalah
Adapun
rumusan masalah dari penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana
tafsir surat Luqman ayat 12-15?
2. Apa
nilai-nilai pendidikan yang ada di dalam surat Luqman ayat 12-15?
C.
Tujuan
Adapun tujuan dari
penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk
mengetahui tafsir surat Luqman ayat 12-15.
2. Untuk
mengetahui nilai-nilai pendidikan yang ada di dalam surat Luqman ayat 12-15.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Makna
dan Kandungan Surat Luqman: 12-15
Al-Qur’an sebagai asasi Islam memuat
banyak makna. Hal ini sejalan dengan apa yang dikutip oleh Quraish Shihab dari
Abdullah Darras, “ayat-ayat al-Qur’an
bagaikan intan”. Setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa
yang terpancar dari sudut lainnya. Dan tidak mustahil jika kita mempersilahkan
orang lain memandangnya dari sudut lainnya, maka dia akan melihat banyak
dibanding apa yang kita lihat. Untuk itulah Muadz bin Jabal terdorong untuk
berijtihad dalam memutuskan sesuatu yang tidak terdapat secara harfiah di dalam
al-Qur’an.[1]
Dalam
Al-Qur‟an juga telah dijelaskan bahwa Allah telah memberikan i’tibar melalui
Luqman al-Hakim sebagai sosok seorang pendidik dalam memberikan pendidikan
kepada anaknya. Dalam ayat 12 diterangkan bahwa Allah telah memberikan hikmah,
akal, paham dan memberikan petunjuk untuk memperoleh ma‟rifat yang benar kepada
Luqman. Oleh karena itu, Luqman menjadi seorang yang hakim (mempunyai hikmah).
Ini memberikan pengertian bahwa anjuran Luqman yang disampaikan kepada anaknya
berupa ajaran-ajaran hikmah, bukan dari wahyu. Hal ini didasarkan pada pendapat
yang benar bahwa Luqman adalah seorang hakim (orang bijak, filosof) dan bukan
Nabi.
Orang
yang mensyukuri nikmat Allah maka sebenarnya dia bersyukur untuk kepentingan
dirinya sendiri, sebab Allah akan memberikan pahala yang banyak dan melepaskan
dari siksa. Dalam ayat ini ada cerita menarik yang telah diriwayatkan oleh
Sa‟id bin Abi „Arubah, dari Qatadah tentang firman Allah : “Dan sesungguhnya
telah kami berikan kepada Luqman, “yaitu pemahaman, pengetahuan dan ta‟bir
mimpi. Yaitu, bersyukurlah kepada Allah, “kami memerintahkan kepadanya
untuk bersyukur kepada Allah SWT atas apa yang diberikan, dianugerahkan dan
dihadiahkan oleh-Nya berupa keutamaan yang hanya dikhususkan kepadanya, tidak
kepada orang lain yang sejenis di masanya.
Kemudian
Allah Ta‟ala berfirman : “Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah),
maka ia bersyukur untuk dirinya sendiri, “yaitu manfa’at dan pahalannya
hanya akan kembali kepada orang-orang yang bersyukur itu sendiri, dan firman
Allah : “Dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah
Mahakaya Lagi Mahaterpuji, “yaitu Mahakaya dari hamba-hamba-Nya, dimana hal
itu (ketidakbersyukurannya) tidak dapat membahayakan-Nya, sekalipun seluruh
penghuni bumi mengkufuri- Nya. Karena sesungguhnya Allah Mahakaya dari
selain-Nya. Tidak ada ilah (yang berhak diibadahi) kecuali Allah dan
kami tidak beribadah kecuali kepada-Nya.
Pada
ayat 13 ada kata ya’izhuhu (yang terambil dari kata wa’zd) yaitu
nasihat menyangkut berbagai kebajikan dengan cara yang menyentuh hati. Luqman
memulai nasihatnya dengan seruan menghindari syirik sekaligus mengandung
pengajaran tentang wujud Allah yang Esa.[2]
Dalam Tafsir Munir juga ayat itu disebutkan wa
huwa ya‘izhuh. Kata ya‘izh berasal dari al-wa‘zh atau
al- ‘izhah yang berarti mengingatkan kebaikan dengan ungkapan halus yang
bisa melunakkan hati. Karena
itu, dalam mendidik anaknya, Luqman menempuh cara yang amat baik, yang bisa
meluluhkan hati anaknya sehingga mau mengikuti nasihat-nasihat yang diberikan.
Allah
menjelaskan bahwa Luqman telah diberi hikmat, karena itu Luqman bersyukur
kepada Tuhannya atas semua nikmat yang telah dilimpahkan Nya kepada
dirinya. Allah SWT mewasiatkan kepada mereka supaya memperlakukan orang-orang
tua mereka dengan cara yang baik dan selalu memelihara hak-haknya sebagai orang
tua. Luqman menjelaskan kepada anaknya, bahwa perbuatan syirik itu merupakan
kezaliman yang besar.Imam bukhori telah meriwayatkan sebuah hadist yang
bersumber dari Ibnu Mas‟ud , Ia telah menceritakan, bahwa ketika ayat ini
diturunkan ,yaitu firmannya surat al-an‟am ayat 82 yang artinya “Orang-orang
yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik),
mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang
mendapat petunjuk.”[3]
Sesudah
Allah menurunkan apa yang telah diwariskan oleh luqman terhadap anaknya, yaitu
supaya ia bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan semua nikmat,yang tiada
seorangpun bersekutu denganNya, didalam menciptakan sesuatu. Kemudian luqman
menegaskan bahwasanya syirik itu adalah perbuatan yang buruk.Kemudian Alla SWT
mengiringi hal tersebut dengan wasiat-Nya kepada semua anak , supaya mereka
berbuat baik kepada kedua orangtuanya,karena sesungguhnya kedua orang tua
adalah penyebab pertama bagi keberadaan kita di muka bumi ini.
Dalam
ayat 14 ini, digambarkan bagaimana payah ibu mengandung, payah bertambah payah.
Payah sejak dari mengandung bulan pertama, bertambah payah tiap bertambah bulan
dan sampai di puncak kepayahan di waktu anak dilahirkan. Lemah sekujur badan
ketika menghajan anak keluar, kemudia mengasuh, menyusukan, memomong, menjaga,
memelihara sakit senangnya. Dalam ujung ayat ini, dianjurkan untuk bersyukur,
syukur yang pertama ialah kepada Allah. Karena semua itu berkat rahmat Allah
belaka. Setelah itu bersyukurlah kepada kedua orang tuamu, ibu yang mengasuh
dan ayah yang membela dan melindungi ibu dan melindungi anak-anaknya, ayah yang
berusaha mencari sandang dan pangan setiap hari.
Dalam
ayat ini, Allah hanya menyebutkan seba-sebab manusia harus taat dan berbuat
baik kepada ibunya. Nabi saw sendiri memerintahkan agar seorang anak lebih
mendahulukan berbuat baik kepada ibunya daripada kepada bapaknya, sebagaimana
diterangkan dalam hadits yang artinya “Dari
Abi Hurairoh, ia berkata, “Aku bertanya ya Rasulullah, kepada siapakah aku
wajib berbakti? “Rasulullah menjawab, “Kepada ibumu. “Aku bertanya, “Kemudian
kepada siapa?”Rasulullah menjawab, “Kepada ibumu.” Aku bertanya, “Kemudian
kepada siapa lagi?”Rasulullah menjawab.” Kepada ibumu. “Aku bertanya, “Kemudian
kepada siapalagi?”Rasulullah menawab, “Kepada bapakmu, Kemudian kepada kerabat
yang lebih dekat, kemudia kerabat yang lebih dekat.” (HR. Ibnu Majah)
Ibu-bapak
dalam ayat ini disebut secara umum, tidak dibedakan antara ibu bapak yang
muslim dengan yang kafir. Oleh Karena itu, dapat dipahami bahwa anak wajib
berbuat baik kepada ibu bapaknya, apakah ibu bapaknya itu muslim atau kafir.
Pada
ayat yang ke-15 ini menerangkan bahwa dalam hal tertentu, seorang anak dilarang
menaati ibu bapaknya jika mereka memerintahkannya untuk menyukutukan Allah,
yang dia sendiri memang tidak mengetahui bahwa Allah mempunyai sekutu, karena
memang tidak ada sekutu bagi-Nya. Sepanjang pengetahuan manusia, Allah tidak
mempunyai sekutu. Karena menurut naluri, manusia harus meng-Esa-kan Tuhan. Oleh
Karena itu, dapat dipahami bahwa anak wajib berbuat baik kepada ibu bapaknya,
apakah ibu bapaknya itu muslim atau kafir, jadi pada ayat yang ke-15 ini
menerangkan bahwa dalam hal tertentu, seorang anak dilarang menaati ibu
bapaknya jika mereka memerintahkannya untuk menyukutukan Allah, yang dia
sendiri memang tidak mengetahui bahwa Allah mempunyai sekutu, karena memang
tidak ada sekutu bagi-Nya. Sepanjang pengetahuan manusia, Allah tidak mempunyai
sekutu. Karena menurut naluri, manusia harus mengesakan Tuhan.
Jadi,
dalam hal ini jika orang tua menyentuh titik syirik maka jatuhlah kewajiban
taat kepadanya, ini menandakan bahwa ikatan aqidah ini harus mengalahkan dan
mendominasi segala ikatan lainnya. Meskipun kedua orang tua telah mengeluarkan
segala upaya, usaha, tenaga dan pandangan yang memuaskan untuk menggoda anaknya
agar menyekutukan Allah dimana ia tidak mengetahui tentang ketuhanannya maka
pada saat itu anak diperintahkan agar tidak taat.
Dalam
tafsir al-Bayan juga dijelaskan bahwa dalam ayat ini Allah mengharuska anak
untuk melayani orang tua yang kafir secara baik walaupun tidak boleh si anak
mengikuti orang tua dalam kekafiran.[4]
Tidak
hanya itu, kita selaku seorang anak di dalam suatu keluarga, kita juga harus
menjaga lisan kita. Jangan sampai karena lisan kita, khususnya orangtua kita
sakit hati dengan apa yang kita sampaikan kepada mereka. Untuk itu, kita harus
menjaga lisan kita. Sebagaimana hal ini tertuang dalam QS. Luqman ayat 19.
Karena bahasa merupakan atau lisan merupakan alat komunikasi oral yang dimiliki
manusia dalam menyampaikan gagasan, pikiran, unek-unek, perasaan dan lain-lain.[5]
B.
Nilai-nilai
Pendidikan dalam Surat Luqman: 12-15
Adapun nilai-nilai pendidikan
dalam surat Luqman ayat 12-15 adalah sebagai berikut:
Dalam
Al–Qur'an surat Luqman ayat 12-15, ada sebuah kisah yang menarik mengenai
proses interaksi pendidikan dan pembelajaran yang dilakukan seorang ayah kepada
anaknya. Dalam kisah ini jika di perhatikan dari Al-Qur'an surat Luqman ayat
12-15 Allah memberi penghargaan kepada sang ayah dengan mengabadikan namanya
sebagai nama kisah Al-Qur'an karena usahanya yang gigih memberikan nasihat
kepada anaknya dengan pelajaran yang mulia.
Proses
pendidikan yang dilakukan oleh Luqman terhadap anaknya di sebabkan hikmah yang
di berikan Allah kepadanya, dalam tafsir Al-Azhar yang di kutip Prof, Hamka Ar
Razi mendefinisikan hikmah sebagai persesuaian di antara perbuatan dengan
pengetahuan. Dan puncak dari hikmah yang di terima Luqman adalah rasa syukur
kepada Allah swt karena ilmu yang milikinya.
Nilai-nilai
yang terkandung dalam surat Luqman ayat 12-19 sebagai berikut :
1.
Syukur
Kata
syukur secara bahasa mempunyai arti pujian, secara istilah yaitu mentasarufkan
segala kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah sesuai dengan fungsinya.
Syukur manusia kepada Allah dimulai dengan menyadari dari lubuk hatinya yang
terdalam betapa besar nikmat dan anugerah-Nya, dan dorongan untuk memuji-Nya
dengan ucapan sambil melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya dari
penganugerahannya itu. Syukur didenifisikan oleh sementara ulama dengan
memfungsikan anugerah yang diterima sesuai dengan tujuan penganugerahannya.
Ia
adalah menggunakan nikmat sebagaimana yang dikehendaki oleh penganugerahannya,
sehingga penggunaannya itu mengarah sekaligus menunjuk penganugerah. tentu saja
untuk maksud ini, yang bersyukur perlu mengenal siapa penganugerah (dalam hal
ini Allah swt). Mengetahui nikmat yang di anugerahkan kepadanya, serta fungsi
dan cara menggunakan nikmat itu sebagaimana dikehendaki-Nya, sehingga ini yang
di anugerahi nikmat itu benar-benar menggunakannya sesuai dengan apa yang di
kehendaki oleh Penganugerah.
Dalam
Tafsir An-Nur dijelaskan bahwa seseorang yang mensyukuri nikmat Allah,
maka dia sebenarnya dia bersyukur untuk kepentingan dirinya sendiri. Sebab,
Allah akan memberi pahala yang banyak atas kesyukurannya dan melepaskannya dari
siksa. Orang yang menyangkal nikmat Allah, tidak mau mensyukuri-Nya, berarti
membuat keburukan terhadap dirinya sendiri; Allah akan menyiksa karena
penyangkalannya itu.
2. Aqidah
Kata
aqidah menurut bahasa arab berasal dari kata al-aqdu yang berarti ikatan, sedangkan menurut istilah
yang umum, bahwa aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada
keraguan sedikitpun bagi orang yang menyakininya.[6]
Menurut Muhamad Alim, aqidah berarti perjanjian yang teguh dan kuat,
terpatri dan tertanam di dalam lubuk hati yang paling dalam. Secara
terminologis berarti credo, creed, keyakinan hidup iman arti
khas, yakni pengikraran yang bertolak dari hati. Dengan demikian akidah adalah
urusan yang wajib diyakini kebenaranya oleh hati, menentramkan jiwa, dan
menjadi keyakinan yang tidak bercampur dengan keraguan.[7]
Pendidikan
Islam sangat memperhatikan pendidikan aqidah, karena pendidikan aqidah
merupakan inti dasar keimanan seseorang yang harus ditanamkan kepada anak sejak
dini Pendidikan aqidah serta meliputi pengertia, kemudian hakekatnya,
dalam hal ini adalah mengenai sifat-sifat Allah baik wajib, mustakhil
maupun sifat ja’iz Allah
serta tanda-tanda kekuasaan Allah harus ditanamkan pada keluarga Muslim
sehingga akan muncul kesadaran bahwa Allah Maha kuasa, dan karena
ke-Mahakuasaan Allah itu maka hanya Allah-lah yang patut disembah. Segala
sesuatu yang ada di dunia ini hanyalah makhluk ciptaan Allah yang menyiratkan
tanda-tanda kebesaran Allah, dengan demikian dengan pendidikan aqidah ini
akan tumbuh generasi yang sadar akan sifatsifat Ilahiah. Luqman al Hakim
memulai nasihatnya dengan menekankan perlunya menghindari syirik atau
mempersekutukan Allah. Larangan ini sekaligus mengandung pengajaran tentang
wujud dan keesaan Tuhan.
3. Berbuat baik kepada orang tua
Dalam
ayat 14 menjelaskan bahwa anak diharuskan untuk berbakti memuliakan,
menghormati kepada orang tuanya, karena merekalah yang memelihara, merawat
sejak kecil. Bila anak telah berani berbuat dosa kepada orang tuanya, ini
berarti telah terjadi penyimpangan dengan mental anak. Padahal berterima kasih
adalah paling mudah dari pada membalas budi. Membalas budi adalah perbuatan
yang paling sukar karena budi oarng tua kepada kita sangat tak terhingga.
C.
Keutamaan
Birrul Walidain
Adapun keutamaan birrul walidain adalah sebagai berikut:
1.
Termasuk
Amalan Yang Paling Mulia
Dari
Abdullah bin Mas’ud mudah-mudahan Allah meridhoinya dia berkata : Saya bertanya
kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: Apakah amalan yang paling
dicintai oleh Allah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam:
"Sholat tepat pada waktunya", Saya bertanya : Kemudian apa lagi?,
Bersabada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam "Berbuat baik kepada
kedua orang tua". Saya bertanya lagi : Lalu apa lagi?, Maka Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : "Berjihad di jalan Allah". (Diriwayatkan
oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya).
2.
Merupakan
Salah Satu Sebab-Sebab Diampuninya Dosa
Allah
Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya): "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang
ibu bapaknya….", hingga akhir ayat berikutnya : "Mereka itulah orang-orang yang kami terima
dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan kami ampuni
kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga. Sebagai janji yang
benar yang telah dijanjikan kepada mereka." (QS. Al Ahqaf 15-16) Diriwayatkan
oleh ibnu Umar mudah-mudahan Allah meridhoi keduanya bahwasannya seorang
laki-laki datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan berkata : Wahai
Rasulullah sesungguhnya telah menimpa kepadaku dosa yang besar, apakah masih
ada pintu taubat bagi saya?, Maka bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi
Wasallam : "Apakah Ibumu masih hidup?",
berkata dia : tidak. Bersabda beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Kalau bibimu masih ada?", dia
berkata : "Ya" . Bersabda Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Berbuat
baiklah padanya". (Diriwayatkan oleh Tirmidzi didalam Jami’nya dan
berkata Al ‘Arnauth : 6 Perawi-perawinya tsiqoh. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban
dan Al Hakim. Lihat Jaami’ul Ushul (1/ 406).
3.
Termasuk
Sebab Masuknya Seseorang Ke Surga
Dari
Abu Hurairah, mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata : Saya mendengar
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: "Celakalah dia, celakalah
dia", Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya : Siapa wahai Rasulullah?,
Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Orang yang menjumpai
salah satu atau kedua orang tuanya dalam usia lanjut kemudian dia tidak masuk
surga". (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1758,
ringkasan).
Dari
Mu’awiyah bin Jaahimah mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua, Bahwasannya
Jaahimah datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian berkata :
"Wahai Rasulullah, saya ingin (berangkat) untuk berperang, dan saya datang
(ke sini) untuk minta nasehat pada anda. Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi
Wasallam bersabda : "Apakah kamu masih memiliki Ibu?". Berkata dia :
"Ya". Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Tetaplah
dengannya karena sesungguhnya surga itu dibawah telapak kakinya". (Hadits
Hasan diriwayatkan oleh Nasa’i dalam Sunannya dan Ahmad dalam Musnadnya, Hadits
ini Shohih. (Lihat Shahihul Jaami No. 1248)
4.
Merupakan
Sebab keridhoan Allah
Sebagaiman
hadits yang terdahulu "Keridhoan Allah ada pada keridhoan kedua orang tua
dan kemurkaan-Nya ada pada kemurkaan kedua orang tua".
5.
Merupakan
Sebab Bertambahnya Umur
Diantarnya
hadit yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik mudah-mudahan Allah meridhoinya,
dia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
"Barangsiapa yang suka Allah besarkan rizkinya dan Allah panjangkan
umurnya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahim".
6.
Merupakan
Sebab Barokahnya Rizki
Dalilnya, sebagaimana hadits sebelumnya.[8]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dalam
ayat 12 diterangkan bahwa Allah telah memberikan hikmah, akal, paham dan
memberikan petunjuk untuk memperoleh ma‟rifat yang benar kepada Luqman.
Kemudian Allah Ta‟ala berfirman : “Dan barang siapa yang bersyukur (kepada
Allah), maka ia bersyukur untuk dirinya sendiri, “yaitu manfa’at dan
pahalannya hanya akan kembali kepada orang-orang yang bersyukur itu sendiri.
Pada ayat 13 ada kata ya’izhuhu (yang terambil dari kata wa’zd)
yaitu nasihat menyangkut berbagai kebajikan dengan cara yang menyentuh hati.
Luqman memulai nasihatnya dengan seruan menghindari syirik sekaligus mengandung
pengajaran tentang wujud Allah yang Esa.
Dalam
ayat 14 ini, digambarkan bagaimana payah ibu mengandung, payah bertambah payah.
Payah sejak dari mengandung bulan pertama, bertambah payah tiap bertambah bulan
dan sampai di puncak kepayahan di waktu anak dilahirkan. Lemah sekujur badan
ketika menghajan anak keluar, kemudia mengasuh, menyusukan, memomong, menjaga,
memelihara sakit senangnya. Pada ayat yang ke-15 ini menerangkan bahwa dalam
hal tertentu, seorang anak dilarang menaati ibu bapaknya jika mereka
memerintahkannya untuk menyukutukan Allah, yang dia sendiri memang tidak
mengetahui bahwa Allah mempunyai sekutu, karena memang tidak ada sekutu
bagi-Nya.
Adapun
nilai-nilai pendidikan dalam surat Luqman ayat 12-15 yakni membuat manusia
bersyukur, memantapkan aqidah, dan berbuat baik kepada orangtua.
B.
Saran
Demikianlah penyusunan makalah yang
dapat kami susun. Kami menyadari masih banyak kekurangan, khususnya masalah
referensi dalam makalah ini. Untuk itu kami mengharapkan kritik serta saran
dari pembaca baik dari segi fisik maupun dari isi makalah ini sendiri.
Atas kritik dan sarannya kami
ucapkan terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Alim
Muhammad, 2006, Pendidikan Agama Islam Upaya Pembentukan Pemikiran dan
Kepribadian Muslim, Bandung: PT Remaja Rosda Karya
Ghafur Waryono Abdul , 2005, Tafsir Sosial, Yogyakarta: eLSAQ Press
Shihab M. Quraish, 2002, Tafsir Al-Mishbah,
Pesan, Kesan dan Keserasian Al Qur’an, Jakarta: Lentera Hati
Soenarjo, et.al., 2002, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta:
CV. Karya Insan Indonesia
Syafruddin,
2009, Paradigma Tafsir tekstual dan
kontekstual, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Jawas Yazid bin Abdul Qodir, 2006, Syarah Aqidah
Ahlussunah Waljama’ah, Bogor:
Pustaka Imam Syafi‟i
http://khoirul6975.blogspot.com,
diakses pada 10 Maret 2017
http://sofyan.phpnet.us, diakses pada 10 Maret 2017
[1] Syafruddin,
Paradigma Tafsir tekstual dan
kontekstual, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hlm. 29
[2] M.
Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an,
(Jakarta:Lentera Hati, 2002), hlm. 127
[3] Soenarjo,
et.al., Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: CV. Karya Insan Indonesia: 2002),
hlm. 185
Imam Syafi‟i, 2006), hlm.
27
[7] Muhammad
Alim, Pendidikan Agama Islam Upaya Pembentukan Pemikiran dan Kepribadian
Muslim, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2006), hlm. 124
Tidak ada komentar:
Posting Komentar